Jumat, 31 Oktober 2014

H-O-L-I-D-A-Y is Lombok Sumbawa



PROLOG
Sore itu, aku terkejut saat sekretarisku memberikan sebuah kartu pos bergambar Gunung Rinjani yang indah kepadaku. Nama pengirim kartu pos itu adalah seorang wanita yang familiar dan sudah sangat ingin kutemui sejak lama. Di kartu pos tersebut tertuliskan nomor handphone dan sebuah pesan singkat: “Aku menemukanmu, Ariya! Sekarang bisakah kau penuhi janjimu? Temukan aku di Lombok-Sumbawa...” Pasti. Aku bisa. Akan kutemukan kau, Nana.

Saat itu juga aku memesan tiket pesawat dari Surabaya dengan tujuan Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat.

--oOo--

Aku sedang berdiri di bangunan cantik dengan desain atap menyerupai atap rumah lumbung arsitektur Sasak. Sudah tiga menit lepas dari jam 6 pagi aku berada di area pintu keluar Bandar Udara Internasional Lombok untuk menunggu seseorang yang katanya akan menjemputku. Sedari tadi kulihat banyak orang berwajah lokal maupun bule berlalu-lalang membawa koper besar dan menenteng tas backpack mereka masing-masing. Jika tujuan mereka ke Lombok-Sumbawa untuk berlibur dan berwisata, aku tidak. Aku tidak pernah bisa menikmati wisata. Terakhir kali aku berwisata yang aku dapatkan hanyalah lelah dan kekecewaan. Toh, tujuan utamaku ke sini adalah memenuhi janji untuk menemukan Nana.

Seorang bapak berkacamata mendekatiku. Ia meminta maaf karena tidak menyadari jika aku sudah datang. Lalu dengan sopan ia memperkenalkan diri, Pak Dedi namanya. Nomor handphone yang ada di kartu pos Nana adalah milik Pak Dedi. Beliau lah yang akan membantuku mencari Nana. Setelah memasukkan barang-barangku ke bagasi mobil, kami berangkat menuju ke arah timur kota Mataram. Dalam perjalanan yang terlihat penuh dengan padang rumput dan pepohonan hijau, aku kembali teringat Nana. Dulu Nana sangat dekat denganku. Ia sudah menghilang sejak 10 tahun yang lalu. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah sesaat setelah kami lulus SMA. Ia mengajakku ke Gunung Bromo bersama teman-teman yang lain namun aku menolak ajakannya. Wajah sedihnya adalah ekspresi terakhir yang aku lihat darinya. Sungguh aku menyesal. Lamunanku buyar saat mobil berhenti dan Pak Dedi memanggilku. Kami sudah sampai. Inilah tempat dimana satu-satunya petunjuk yang Nana berikan kepada Pak Dedi untuk menemukan dirinya.

PETUNJUK PERTAMA DI TAMAN MAYURA
Taman Mayura. Itulah yang tertulis di papan nama tempat ini. Kesan pertama yang aku rasakan saat menginjak Taman Mayura adalah suasana religius, asri, dan sangat bersejarah. Pak Dedi memberikanku sebuah kain selendang kecil berwarna merah dan menyuruhku memakainya. Ia memasang kain merah di pinggangnya dan aku pun menirunya. Namun Pak Dedi yang melihatku seketika mengernyitkan dahinya dan terlihat heran.

“Mas Ariya, apakah sudah menikah?” tanyanya
“Belum, pak.”
“Sudah punya pacar?”
“Hampir... He..he..” jawabku sambil meringis. Pacar? Mengapa Pak Dedi mulai tanya yang aneh-aneh, pikirku.
“Kalau begitu, jangan mengikatkan kainnya di sebelah kiri seperti saya. Ini tanda bahwa saya sudah menikah. Ikatan di sebelah kanan untuk yang sudah punya kekasih. Kalau mas Ariya yang belum beristri atau pun belum punya pacar, ikatkan saja simpul kainnya di bagian tengah.”
“Walah.. Iya pak..” akupun membetulkan ikatanku. Dengan begini jadi terlihat jelas siapa yang masih jomblo di taman ini, ternyata banyak juga. Tapi ternyata ikatan selendang ini melambangkan terikatnya niat jahat maupun hal buruk di lingkungan yang suci ini. Aku mulai tertarik dengan tempat ini.


Kami masuk ke dalam kawasan Taman Mayura. Ada kolam besar di tengah-tengah taman yang di dalamnya berdiri bangunan terbuka yang disebut Bale Kambang. Cantik sekali. Aku teringat dengan Pantai Balekambang di Malang dengan pura yang berada di tengah pulau. Apakah Bale Kambang di Taman Mayura ini ada hubungannya dengan itu? Apakah pulau ini punya ikatan khusus dengan pulau Jawa? Aku semakin tidak mengerti saat melihat banyak patung khas kebudayaan Muslim, Cina dan Jawa. Aku ingin bertanya namun Pak Dedi terus berjalan karena Bale Kambang bukanlah tujuan kami.

Beberapa pura telah kami lewati, akhirnya kami berhenti pada satu pura. Disana terlihat seseorang pria berpakaian putih yang sepertinya telah usai bersembahyang. Ia berdiri, mengangguk tersenyum pada Pak Dedi, lalu ia menuju ke arahku. Sepertinya ia tahu kegelisahanku tentang tempat ini karena ia mulai menjelaskan tentang Taman Mayura.

“Taman Mayura merupakan saksi keberadaan kerajaan Singasari dan orang-orang Bali di Lombok pada abad ke-19 saat penjajahan Belanda, karena itulah tak perlu heran jika menemukan kemiripan nama hingga arsitektur Taman Mayura dengan beberapa tempat di Jawa maupun Bali. Selain itu, tempat ini juga merupakan saksi bahwa kebhinnekaan sudah ada sejak dulu tanpa ada masalah. Berbagai ras dan agama dapat hidup berdampingan dengan rukun. Tempat ini sungguh indah, bukan?” jelasnya.
“Iya,” aku mengangguk menyetujui.
 “Saya adalah pemangku di Taman Mayura. Sekarang ikut saya ke Bale Pawedan. Beberapa minggu yang lalu seorang gadis menitipkan sesuatu. Itu yang akan saya berikan kepada Anda.”

Sepucuk amplop surat dan sebuah kotak antik berukuran kecil diberikan olehnya. Kotak ini dibalut dengan kain songket khas NTB berwarna merah. Seperti koper, kotak ini terkunci dengan kode kombinasi. Anehnya bukan dengan angka 0 hingga 9, namun dengan huruf A hingga Z yang berjumlah 7 digit. Di dalam amplop yang kuterima, terdapat kartu dengan lambang aneh, berbentuk huruf ‘n’ yang bersambung dengan angka ‘9’. Di bawah lambang itu tertulis ‘Pura Mayura’. Apa maksudnya? Selain kartu, terdapat secarik kertas bertuliskan ‘Mercusuar Tanjung Ringgit’. Di sanalah petunjuk berikutnya.

PETUNJUK KEDUA DI TANJUNG RINGGIT
Sekitar tiga jam perjalanan akhirnya kami melihat sebuah menara dari kejauhan. Pak Dedi mengiyakan saat kutanya apakah kita hampir sampai. Syukurlah, karena aku sudah kewalahan selama dalam perjalanan, lalu mobil berhenti. Aku keluar mengikuti Pak Dedi melewati jalan setapak dikelilingi semak dan pepohonan kering. Pemandangan selanjutnya membuatku terpaku di tempat. Di depan mataku terhampar tebing-tebing cadas yang curam. Langit biru terpantul sempurna di samudera biru. Gulungan ombak yang menyapu laut saling menghempas tebing dan menciptakan buih-buih yang terlihat seperti butiran mutiara. Tak sengaja aku meneteskan air mata. Sungguh, sungguh indah sekali. Aku tak tahu berapa lama aku terdiam di sana, namun sempat aku menoleh dan Pak Dedi mengajakku untuk beranjak.


Mercusuar Tanjung Ringgit sudah di depan mata. Aku sudah memantapkan hati, siap tak siap untuk memanjat mercusuar demi petunjuk Nana berikutnya. Namun Pak Dedi malah berbelok ke arah bangunan bertuliskan Departemen Perhubungan. Kami bertemu dengan petugas di sana dan menjelaskan tujuan kedatangan kami. Petugas tersebut mengangguk paham sambil mengambil sesuatu dalam lemari. Sepucuk amplop dari Nana! Aku bersyukur dan lega dalam hati karena tidak perlu memanjat mercusuar peninggalan Belanda ini yang ternyata masih berfungsi dan digunakan sebagai petunjuk bagi kapal-kapal yang beroperasi di sekitar Tanjung Ringgit.

Tujuan kami selanjutnya sudah diketahui. Pak Dedi bergegas kembali ke mobil, namun aku berbicara kepada Pak Dedi untuk dapat sedikit berlama-lama di sini karena aku ingin sedikit lagi menikmati Tanjung Ringgit yang terlihat masih belum terlalu banyak pengunjung. Aku dapat melihat banyak sapi yang sedang mencari makan berserta pulau Sumbawa di seberang lautan. Saat aku mengamati lautan dari tepi tebing, terlihat banyak sekali terumbu karang dan ikan-ikan yang cantik. Aku mencoba melewati jalan kecil dan tidak sengaja menemukan sebuah meriam yang katanya merupakan peninggalan Jepang. Setelah puas, aku kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

Di dalam perjalanan, aku melihat kembali isi dari amplop yang baru saja aku terima. Kartu berlambang seperti angka ‘6’ terputus atau huruf ‘G’ kapital bertuliskan Tg. Ringgit membuatku semakin tidak mengerti. Aku berharap tujuan selanjutnya dapat sedikit mencerahkan maksud dari petunjuk-petunjuk berupa simbol ini. Karena yang akan kami tuju selanjutnya adalah Desa Sade, permukiman adat Suku Sasak yang masih mempertahankan adat istiadat dan kebudayaan Sasak dengan sangat baik, hingga memperoleh penghargaan sebagai salah satu Desa Wisata terbaik di Indonesia.

PETUNJUK TERAKHIR DI DESA SADE?
Tulisan ‘Selamat Datang’ saat memasuki kawasan Desa Sasak Sade membuatku sedikit lega. Sekarang kami berada di tengah-tengah keunikan arsitektur Sasak. Aku terkesan dengan seluruh rumah yang dinaungi atap dari jerami. Dindingnya dari anyaman bambu yang rapih menambah keeksotisan desa ini. Terdapat pula beberapa lumbung dengan bentukan lengkungnya yang khas, cantik sekali. Aku semakin penasaran ingin segera melihat bagaimana keadaan interior rumah adat Sasak ini, namun Pak Dedi masih sibuk menelepon.

Sesaat setelah Pak Dedi menutup teleponnya, seorang pria yang masih muda mengenakan batik biru bermotifkan lumbung-lumbung menghampiri kami dan kalau tidak salah itu merupakan motif Batik Sasambo, batik khas NTB. Ternyata ia adalah tour guide desa Sade. Ia yang akan mengantar kami ke kepala desa sekaligus menjadi penerjemah kami. Ya, sebagian penduduk desa Sade terutama orang tua di sana tidak berbahasa Indonesia dan hanya menggunakan bahasa Sasak.

Jalanan desa ini dipenuhi anak kecil yang bermain-main. Terlihat pula ibu-ibu yang sedang memintal benang dan menenun kain. Beberapa aksesoris cantik juga dijual di beberapa toko yang ada. Akhirnya kami sampai di rumah kepala desa. Untuk masuk kami harus menunduk, selain karena pintunya rendah, itu sebagai pertanda untuk menghormati tuan rumah. Di dalamnya duduk seorang kakek yang berbicara dalam bahasa Sasak dan sepertinya ia mempersilahkan kami duduk. Aku pernah melihat di televisi bahwa lantai rumah adat ini dilapisi kotoran kerbau. Aku melihat kecanggihan dari penerapan kotoran kerbau ini, karena hal tersbut dimaksudkan untuk menjaga suhu ruangan saat  panas agar tetap sejuk, dan saat dingin agar tetap hangat.


Setelah memperkenalkan diri dan berbincang-bincang sebentar akhirnya kepala desa mengeluarkan sebuah amplop yang sudah kutunggu-tunggu untuk diperlihatkan. Namun kepala desa menolak memberikannya sekarang. Beliau memintaku untuk bermalam di sini karena ia ingin menjamuku makan malam. Aku sangat terharu karena aku orang dari luar dan asing, namun mereka menerimaku seperti keluarga mereka sendiri. Makan malam usai dan kami lanjut ngobrol dengan bahasan yang menarik seperti prosesi pernikahan adat Sasak yang unik yaitu dengan penculikan dan kawin lari. Aku tertawa terpingkal-pingkal saat seorang pria menceritakan pengalamannya dulu. Aku mulai tersenyum. Tempat ini menyenangkan sekali. Dan aku merindukan Nana.

Pagi-pagi sekali bahkan matahari belum terbit saatnya aku kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Kepala desa telah memberikan amplopnya kepadaku semalam sekaligus menjelaskan maksud dari lambang pada kartu-kartu yang ada. Lambang tersebut merupakan angka-angka aksara Sasak atau juga dikenal sebagai aksara Jejawan. Kartu yang kudapatkan saat berada di Taman Mayura adalah 7. Angka pada kartu Tanjung Ringgit adalah 4. Dan kartu yang kudapatkan di Desa Sade adalah 6. Kepala desa tidak bisa menjelaskan maksud di balik angka-angka itu.

Sekarang aku dibingungkan untuk memilih. Tujuan berikutnya pada amplop tidak hanya satu, tapi tiga. 1. Hutan Pusuk, 2. Pulau Bungin, dan 3. Moyo Island. Ada yang aneh pada petunjuk ini. Mengapa Moyo Island tidak ditulis Pulau Moyo? Dan apa maksud angka-angka pada kartu? Mengapa Nana menggunakan huruf-huruf sebagai kode? Tunggu. Tunggu. Huruf? Dulu aku sering bermain tebak kata bersama Nana. Kami diberi kesempatan tiga kali kesalahan untuk memilih huruf untuk menebak kata yang tepat. Jika seperti itu berarti.....

Aku mulai mencoret-coret buku catatanku.
Huruf ketujuh dari kartu ‘Pura Mayura’ adalah ‘Y’.
Huruf keempat dari kartu ‘Tg. Ringgit’ adalah ‘I”
Huruf keenam dari kartu ‘Desa Sade’ adalah “A”
Berarti sisa huruf lainnya bisa kita perkirakan dengan melihat jumlah huruf destinasi yang tersisa. Memang kurang satu petunjuk tempat. Namun jika ada 6 huruf yang sudah diketahui maka menemukan huruf ketujuh untuk membuka kotak itu, hanyalah masalah waktu.

Ketemu! Kode itu adalah ‘H O L I D A Y’! Aku coba memasukkan huruf-huruf itu. Dan.... Terbuka! Sebuah kartu pos di dalamnya dengan foto Pulau Moyo. Yang tertulis di sana adalah nomor handphone dan sebuah pesan singkat: “Aku mencintaimu...”

“Pak Dedi, kalau nanti saya ke Taman Mayura lagi, ikatannya akan saya pasang di sebelah kanan....”
“Lho? Apa? Mas Ariya kenapa nangis?”
“Tidak apa-apa... Ayo kita segera berangkat, pak!”

--oOo--

Nomor handphone di kartu pos pada kotak adalah milik nelayan pantai utara Sumbawa Besar. Ia mengantarku menuju Pulau Moyo dengan perahunya. Aku hampir sampai di dermaga dan dari kejauhan melihat siluet wanita cantik yang selalu ada di mimpiku. Namun ini bukan mimpi. Perahu menepi. Aku melompat dan segera berlari ke arahnya. Nana. Aku memeluknya sambil berkata, “Aku mencintaimu.....”


EPILOG
“Terima kasih kamu telah memaksaku untuk ke Lombok Sumbawa. Aku tidak akan pernah tau bahwa liburan itu akan sangat mengasyikkan. Aku tidak pernah tau kalau semua lelah kita saat berlibur akan terbayar setara. Bahkan lebih!”
“Yah.. Itulah tugasku di sini. Membuat wisatawan seperti kamu tak akan pernah melupakan Lombok Sumbawa,” ujar Nana.
“Aku penasaran. Huruf yang kelima yaitu ‘D’, destinasi apa yang ingin kamu tunjukkan ke aku?”
“Belum aku temukan, hahaha..” ia tertawa. “Masih banyak tempat wisata di Lombok Sumbawa yang ingin aku gali, lalu aku sebar luaskan ke masyarakat luas termasuk sebagai tujuan berlibur yang wajib dikunjungi masyarakat internasional. Sungguh misi yang sangat asik, kan? HOLIDAY is Lombok Sumbawa, kan?”
“Ya! HOLIDAY is Lombok Sumbawa!”

--oOo--

Keterangan: Tulisan ini merupakan kisah fiktif namun menggunakan setting dan latar belakang yang sebenarnya ada pada Lombok dan Sumbawa.



Afif Web Developer

Afif Zakariya seorang mahasiswa arsitektur yang memiliki hobi travelling, membaca, berenang, dan menulis blog. Dia bercita-cita untuk menguasai dunia.

Senin, 27 Oktober 2014

Kita Semua Adalah Agen Sadar Pajak


Kota Malang memang pantas menyandang gelar Kota Sadar Pajak karena terbukti sebagian besar masyarakatnya telah sadar pajak. Hal ini terlihat dengan jumlah penerimaan pajak dari tahun ke tahun yang semakin meningkat. Pada tahun 2013 penerimaan telah melampaui target atau surplus di atas 100% yaitu 114% dengan total penerimaan pajak di kota Malang sebesar Rp. 215 miliar. Itu menandakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari pajak masih paling tinggi dan merupakan salah satu sumber utama selain dana dari pemerintah pusat, untuk menunjang pertumbuhan perekonomian kota Malang.
            Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang Ir. Ade Herawanto, MT mengatakan, target penerimaan pajak pada tahun ini hingga akhir Desember 2014 diharapkan dapat mencapai Rp. 250 miliar. Namun, target tersebut akan sulit untuk tercapai jika tidak adanya kerja sama dari semua Wajib Pajak. Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Malang telah melakukan berbagai terobosan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat untuk taat membayar pajak. Selain Operasi Sadar Pajak, adanya terobosan lain seperti pemberian sembako, adanya hadiah mobil, maupun jalan sehat, dan beragam program lainnya menjadi inovasi yang sangat efektif mendorong masyarakat untuk taat membayar pajak.
            Berbagai kemajuan dan usaha yang telah dicapai Dispenda Kota Malang tersebut ternyata masih belum cukup. Kesadaran dan antusiasnya masyarakat menengah ke bawah untuk membayar pajak ternyata belum diikuti oleh para pengusaha yang notabene merupakan masyarakat menengah ke atas. Sungguh ironi dan disayangkan karena masih banyak pengusaha di kota Malang yang belum membayarkan pajaknya hingga beberapa tahun dengan tunggakan yang bisa mencapai puluhan juta rupiah pada tiap satu jenis usaha. Padahal hasil dari pajak ini akan dikembalikan lagi kepada masyarakat berupa program pembangunan dan berbagai program lain, termasuk didalamnya untuk pendidikan dan kesehatan.
            Memang sudah menjadi kewajiban Dispenda untuk menggalakkan kesadaran masyarakat untuk taat membayar pajak. Namun sebagai warga masyarakat yang tinggal di kota Malang, sebenarnya kita juga berkewajiban untuk memajukan dan membangun kota Malang. Yang bisa kita lakukan saat ini salah satunya adalah dengan cara menjadi agen sadar pajak di daerah dan lingkungan kita masing-masing. Di saat semua masyarakat sadar dan taat pajak, maka di saat itulah Malang akan jauh lebih maju karena pendapatan daerahnya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Berikut adalah langkah-langkah utama yang dapat kita ikuti untuk bisa menjadi agen sadar pajak.
Langkah 1. Mengetahui Jenis-jenis Pajak Daerah di Kota Malang
            Disebutkan dalam Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah, bahwa ada tujuh jenis pajak daerah yang terdiri atas pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak parkir, dan pajak air tanah. Tiap jenis pajak daerah tersebut juga terdiri atas berbagai jenis usaha dan pelayanan. Besaran pajak yang harus kita keluarkan pun beragam dengan beberapa ketentuan yang berlaku. Mulai dari 5% hingga 25%, bahkan ada yang mencapai 35%. Dengan mengetahui hal ini, maka kita dapat tau berapa uang yang telah kita keluarkan untuk pajak dan sebenarnya kita sudah mulai sadar bahwa kita juga telah taat membayar pajak. Bagi pengusaha, pengetahuan ini diperlukan agar tidak terjadi kesalahan dalam penyetoran uang pajak. Kebocoran uang pajak sering terjadi karena kesalahan perhitungan dan belum diaplikasikannya e-tax sehingga kecurangan pajak masih belum dapat terkontrol dengan baik.
Langkah 2. Mengamati, Memeriksa, dan Mengingatkan
            Setelah kita mengetahui jenis-jenis pajak dan jumlah yang harus dibayarkan sesuai aturan yang berlaku, kita dapat ikut memeriksa dan mengkroscek, apakah orang atau suatu badan usaha tertentu telah melaksanakan kewajibannya dalam membayar pajak daerah. Hal ini dapat kita cek saat kita telah menggunakan suatu jenis usaha dan menerima bukti pembayaran atau bon. Jika dalam bon yang kita terima tertulis pajak dengan tagihan sekian persen, itu berarti usaha yang bersangkutan telah menunaikan kewajibannya dalam usaha taat membayar pajak. Tapi jika dalam bon yang kita terima tidak tercantum besaran pajak, kemungkinan sudah terhitung di dalam tiap item yang telah kita bayarkan. Namun hal ini bisa kita tanyakan langsung saat membayar, apakah barang/jasa yang kita bayarkan ini sudah dihitung juga pajaknya. Jika belum, kita bisa mengingatkan karena sanksi bagi Wajib Pajak yang tidak membayarkan pajaknya bisa berupa sanksi administrasi bahkan sanksi pidana.
Langkah 3. Mengawasi Penggunaan Uang Pajak
Pengalokasian dan pemanfaatan uang pajak diserahkan sepenuhnya oleh pemerintah daerah. Kita bisa mengawasi penggunaan uang pajak yang telah kita bayarkan dengan memeriksa ringkasan laporan realisasi APBD yang bisa dilihat pada website pemerintah kota Malang yang telah mencantumkan transparasi pemasukan dari sektor pajak dan lainnya, juga pengeluaran belanja dan pembiayaan lainnya. Dengan mengawasi penggunaan uang pajak, kita sadar bahwa uang pajak telah dialokasikan pada sektor-sektor yang dapat dirasakan bagi pembangunan dan kemajuan Kota Malang. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk membayar pajak karena khawatir uang yang kita bayarkan digunakan tidak sebagaimana mestinya.
            Marilah ajak keluarga dan teman-teman di lingkungan kita untuk taat selalu membayar pajak. Karena sebenarnya kita semua adalah agen sadar pajak. Kita membayar pajak bukan untuk terlepas dari sanksi, namun karena kita sangat butuh untuk membayar pajak yang digunakan untuk mengembangkan kota Malang. Kitalah warga kota Malang yang akan selalu memajukan daerah kita yang tercinta ini. Orang bijak, taat pajak. Umak hebak, bayar pajak, ker!


Sumber Referensi:
Anam, Choirul (2014, 29 April). Kejar Target Pajak Rp250 Miliar, Malang Bentuk
Satgas Khusus,Diakses pada 23 September 2014 dari http://surabaya.bisnis.com/

Hadi, Wiyoso (2012, 29 Agustus). Mendorong Masyarakat Sebagai Agen Sadar Pajak
Nasional, Diakses pada 24 September 2014 dari
http://www.pajak.go.id/content/article/

Oktavia, Hanum (2013, 16 Desember). Dispenda Malang Klaim Penerimaan Pajak
Lampui Target. Diakses pada 23 September 2014, dari http://m.beritajatim.com/politik_pemerintahan/

Pemerintah Kota Malang, RINGKASAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN
PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH – Sampai dengan 31 Desember 2012 Tahun Anggaran 2012. dari http://www.malangkota.go.id/

Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah


Afif Web Developer

Afif Zakariya seorang mahasiswa arsitektur yang memiliki hobi travelling, membaca, berenang, dan menulis blog. Dia bercita-cita untuk menguasai dunia.

Senin, 12 Mei 2014

TOP 5: Kumpulan Let It Go - Indonesian Cover di YouTube


Lagu Let It Go dari movie Frozen sangat fenomenal di seluruh penjuru dunia. Lagu tersebut dicover dalam berbagai bahasa yang ada di dunia, tak terkecuali Bahasa Indonesia dan bahasa daerah seperti bahasa Jawa dan Sunda. Yuk kita simak, TOP 5 beserta bonus!

1. Disney FROZEN Let It Go in Bahasa Indonesia [cover]
Komen: Cover Let It Go ini paling populer sampai saat ini. Youtubers cewek ini menyanyikan let it go dengan suara halusnya. Videonya menyediakan lirik sehingga kita bisa langsung sing along. Saya paling suka bagian "pikiranku meledak seperti bom es!". Awesome.



2. Disney Frozen - Let it Go ( Indonesian Cover )
Komen: Cover yang satu ini dinyanyikan oleh laki-laki. Nadanya dipaskan dengan range vocal cowok jadi buat para cowok-cowok bisa langsung ikutan nyanyi dan nggak khawatir nadanya ketinggian.



3. Pék Waé (Sundanese) Let It Go Parody
Komen: Whoa. Warning! Kudu 18+ yang pengen denger ini. Banyak umpatan dalam bahasa Sunda. Jadi dia lebih menyebutnya parody daripada cover. Dan banyak yang terhibur XD. Suara yang kuat di nada tinggi membuat ini terdengar oke.



4. Uculno (Let It Go) - Frozen Cover - Basa Jawa
Komen: No komen deh, karena ini saya yang nyanyi HAHAHA. Kalau lihat di komen sana, katanya sih suaranya bagus. Tapi karena ditranslate langsung dari Google Translate kita tercinta, ada bagian kalimat bahasa jawa yang tidak dimengerti. Ya itulah gugel trenslet XD. Tapi untungnya juga banyak yang terhibur.



5. NOWELA - LET IT GO (Frozen - Demi Lovato/Idina Menzel) - Spektakuler Show 5 - Indonesian Idol 2014
Komen: Nowela Idol menggabungkan lagu Let It Go dengan bahasa Papua dan Indonesia. Salah satu penampilan Let It Go terbaik yang pernah saya dengar.



---oOo---

BONUS:
Uculno! - Let it Go ver. Jowo
Komen: Versi ini benar-benar koplak. Kalau versi YouTube lebih serius, versi Soundcloud ini bikin ngakak guling-guling.
Afif Web Developer

Afif Zakariya seorang mahasiswa arsitektur yang memiliki hobi travelling, membaca, berenang, dan menulis blog. Dia bercita-cita untuk menguasai dunia.

Senin, 31 Maret 2014

Surat Terbuka Dari Seekor Harimau Sumatera untuk Manusia dan Calon Pemimpin Di Negeri Ini



Yang terhormat wahai kawanku ataupun calon pemimpin di negeri ini. Simaklah kisahku yang kutitipkan lewat blog WWF. Aku butuh segera bantuan kawan-kawan sekalian.

--oOo--

Namaku Ringo, seekor harimau Sumatera. Aku tinggal di pedalaman hutan Sumatera bersama kedua orangtua dan dua adik kecilku yang bernama Nina dan Nancy. Aku tidak punya banyak teman, semua hewan yang melihatku dalam beberapa meter saja akan langsung mengambil langkah seribu meninggalkanku. Padahal aku tidak akan sekalipun mengganggu mereka jika aku tidak lapar. Namun tidak dengan dua gajah Sumatera yang sedari kecil telah kukenal, mereka tak akan lari. Mereka bernama Teso dan Nela yang baik hati. Bahkan kami saling berbagi sungai dan kubangan air untuk minum maupun mandi, dan kami menghormati satu sama lain karena kami telah memiliki wilayah yang menjadi tanggung jawab kami sendiri-sendiri.

Ayah pernah bercerita bahwa di hutan, kami bukanlah makhluk hidup yang berada di puncak rantai makanan. Manusia, itulah nama makhluk mengerikan yang ayah sebutkan. Aku tidak pernah bertemu manusia seumur hidupku, tapi ayah pernah dua kali bertemu dengan mereka secara tidak sengaja. Ayah bilang, manusia itu mengerikan. Mereka berdiri dan berjalan hanya dengan dua kaki. Mereka juga membawa motor gergaji, senapan dan mesin-mesin besar yang berisik untuk menghancurkan rumah kami dan rumah para gajah. Ayah berpesan kepadaku untuk tidak pernah mendekati manusia, jika suatu saat kami sempat berjumpa dengan mereka. Aku berjanji kepada Ayah tentang hal itu.

Selama bertahun-tahun, kami hidup dengan nyaman dan bahagia di sini. Tapi tidak lagi sejak malam itu. Suara kencang terdengar membangunkan kami. Terdengar pohon-pohon tumbang dan guncangan hebat. Ayah berteriak, “Itu mesin Manusia! Manusia di sini!”. Ayah menyuruhku segera kabur bersama kedua adikku dan mengikuti Ibu. Tapi aku tak bisa menggerakkan kaki-kakiku. Aku terpaku melihat makhluk yang baru pertama kali aku lihat. Aku bertemu manusia, untuk yang pertama kalinya. Monster dua kaki yang selalu ayah ceritakan. Mereka tak jauh dariku, tapi salah seorang dari mereka sangat dekat dengan Ayah. Ayah terlihat bermaksud untuk mengusir mereka. Ayah berlari tapi dihentakan kakinya yang keempat, terdengar suara letusan dan seketika ayah jatuh tersungkur. Ayah tidak bergerak, dan tidak bersuara lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku mencoba berjalan mendekati Ayah tapi Ibu berteriak kepadaku untuk berhenti. Kejadiannya cepat, aku mendengar Ibu mengaum dan berlari ke arahku. Terdengar letusan lagi dan kali ini ibu yang tersungkur. Aku mencium darah segar keluar dari tubuh Ibu. Ibu sempat menggumamkan kata-kata, "Selamatkan adik-adikmu...". Aku mengangguk dan segera pergi dari sana membawa Nina dan Nancy.

Setelah berlari cukup jauh, kami berhasil menemukan tempat persembunyian yang cukup aman. Aku berusaha menenangkan Nina dan Nancy yang sedari tadi gemetar. Masih dicekam rasa ketakutan, kami pun terlelap. Keesokan paginya, suara manusia dan mesin-mesinnya sudah tak terdengar lagi. Kami keluar dari tempat persembunyian kami dan melihat hutan yang tadinya berada beberapa ratus kaki di depan kami sudah tak berbentuk lagi. Tak sengaja kami bertemu Teso dan Nela yang juga kehilangan orangtua mereka semalam.

Kami lapar, kami segera mencari makanan. Teso dan Nela masih bisa mengambil tanaman dan rumput yang melimpah di sekitar mereka. Aku sudah bisa berburu sejak kecil karena Ibu yang mengajariku. Tapi kedua adik kecilku belum mampu untuk itu. Apalagi, kami makan cukup banyak sekitar 5 hingga 10 kg perhari. Aku harus mencarikan makanan untuk mereka. Berkurangnya habitat kami yaitu hutan mengakibatkan populasi beberapa hewan untuk kami makan menjadi sangat langka. Sudah tidak ada banyak Rusa karena sepertinya Manusia juga gemar memangsa mereka. Kami masih bisa makan Babi Hutan tapi bisa dibilang itu adalah daftar makanan paling terakhir untuk kami makan. Mungkin masalah yang akan dihadapi Teso dan Nela nanti adalah saat mereka berpindah tempat. Mereka sering sekali berpindah tempat sewaktu-waktu ke sarang-sarang yang pernah mereka buat. Mereka yang membutuhkan lahan yang sangat luas untuk berpindah-pindah pasti akan sangat kebingungan karena sarang mereka sudah tiada.

Kawan, sungguh aku butuh bantuanmu. Tanpa bantuan kalian, aku tidak dapat menjaga adik-adikku. Aku tidak bisa melawan Manusia. Aku yakin tidak semua Manusia itu jahat. Aku yakin masih banyak Manusia baik seperti kalian yang mau mendengar keluh kesahku. Tolong aku. Selamatkan hutanku. Hutan kita.

--oOo--

Keterangan:
Kisah ini hanya fiktif belaka.
Nama Ringo, Nani dan Nancy diambil dari nama harimau Sumatera yang ada di Kebun Binatang Surabaya.
Nama Teso dan Nela adalah nama gajah Sumatera yang ada di Taman Nasional Tesso Nilo.
Afif Web Developer

Afif Zakariya seorang mahasiswa arsitektur yang memiliki hobi travelling, membaca, berenang, dan menulis blog. Dia bercita-cita untuk menguasai dunia.

Nggak Peduli Hutan Itu Ndeso!


Prolog
Saat saya mendapatkan misi untuk mengikuti Bearing Witness Greenpeace Indonesia, saya merasa ini adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Bersama lebih dari 10 orang yang mengikuti perjalanan ini, saya akan mengajak teman-teman mengikuti petualangan yang telah kami alami. Siapkan senjata dan popcorn kalian karena ini adalah petualangan yang sangat seru.
CATATAN: ‘Ndeso’ disini kita sepakati untuk diartikan sebagai kata norak, nggak keren, atau udik, tidak berpikiran maju. 

Desa Dosan – Desa yang Nggak Ndeso
Hari ke-1:
Tujuan awal kami adalah Desa Dosan, tempat dimana sawit yang konon katanya ramah lingkungan-desa yang nggak ndeso karena sudah berpikiran jauh lebih maju. Jalanan yang awalnya rata, tiba-tiba menjadi berkelok dan penuh pasir berbatu. Pemandangan yang terlihat sepanjang perjalanan adalah lahan sawit. Keberadaan sawit yang berlebihan dan kondisi jalan yang tidak biasa membuat saya enek dan mual. Perjalanan masih di awal namun saya sudah K.O, saya mabok sawit-eh mabok darat. Untungnya jalan kembali membaik dan pemandangan yang akan saya lihat selanjutnya membuat saya melupakan kemabokan saya. Ya, bekas hutan terbakarlah yang saya saksikan. Bang Zamzami dari Greenpeace yang saat itu bersama saya bilang, ini hanya sebagian kecil saja karena kita akan melihat lebih dari ini di perjalanan esok. Saya hanya bisa melongo tidak percaya. Lebih tepatnya tidak mau mempercayainya.
Bekas Terbakarnya Hutan di Lahan Gambut
Setelah sekitar 4 jam di perjalanan akhirnya kami tiba. Sampai di kawasan Desan Dosan,  langit sudah tak bercahaya, hanya gelap yang ditaburi bintang-bintang. Di sana kami disambut dengan sangat baik oleh bapak Kepala Desa Dosan dan keluarga Pak Dahlan. Pak Dahlah adalah salah satu tokoh legendaris Desa Dosan yang mengenalkan warga pada ilmu tanaman sawit yang diterapkan tahun 2003 untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, karena pak Kades bilang dulunya pada tahun 2000 Desa Dosan masih termasuk wilayah yang terbelakang atau IDT (Inpres Desa Tertinggal). Dengan dibantu oleh LSM Elang yang masuk tahun 2004 dan melakukan penelitian selama satu tahun, kualitas tanaman sawit meningkat drastis tanpa menambah jumlah lahan. Bagaimana caranya?


Saat itu saya masih tidak percaya ada taman sawit yang ramah lingkungan. Yang saya tahu sebelum ini, sawit itu tanaman jahat. Jahat sekali. Memang menghasilkan, namun pengrusakan yang diakibatkannya tidak sebanding dengan yang kita dapatkan. Mereka menyerap air dengan egois dan mereka dianggap sebagai raja hingga orang-orang menghalalkan kehancuran lahan gambut. Saya tidak paham. Kerisauan hati ini akan terjawab keesokan hari, karena malam itu sudah larut, waktunya kami untuk beristirahat.

Hari ke-2:
Ternyata tak jauh dari tempat kami, tersembuyi danau yang indah, Danau Naga Sakti namanya. Danau Nagasakti memang sakti karena memiliki banyak kesaktian. Saat musim hujan tidak pernah meluap dan banjir. Saat kemarau tidak pernah kering dan berkurang. Airnya cukup bening padahal berada di lahan gambut yang biasanya air berwarna kemerahan. Airnya juga tidak bisa diambil dengan pompa padahal sudah didirikan bangunan untuk itu. Di sini juga merupakan tempat tinggal berbagai satwa dan pernah dijumpai Harimau Sumatera, tapi tidak ada tanda-tanda mereka saat kami berada di sana, begitu pula seekor Naga yang dikisahkan hidup di dasar danau untuk menjaga kawasan Danau Naga Sakti. Tak apa, karena kami ditemani seekor Bangau Hitam dan kicauan Monyet-monyet yang sepertinya sedang sarapan di sana.
Danau Naga Sakti yang Sakti
Lanjut perjalanan kami ke lahan sawit. Ini dia tanaman jahat yang memandangnya saja sudah membuat perut saya mules. Tapi sebentar lagi permasalahan perut saya akan terobati karena saya sadar, tak semua sawit itu jahat. Sawit yang memiliki gelar ‘Ramah Lingkungan’ harus punya satu syarat utama yaitu tidak melakukan pengrusakan lingkungan ataupun memberikan efek buruk pada lingkungan. Dan di sinilah sawit ramah lingkungan itu berada. Tanpa perlu melakukan Ekstensifikasi seperti penambahan lahan sawit atau saya lebih suka menyebutnya menghancurkan lingkungan, Intensifikasi sawit menjadi solusi modern. Dulunya dalam 2 hektar lahan sawit hanya menghasilkan 400 kg buah sawit, tapi setelah dilakukan Intensifikasi, dalam 2 hektar hasilnya berangsur-angsur naik menjadi 700 kg bahkan mencapai 1,4 ton lebih. Sihir apa ini? Apakah kesaktian Naga Sakti?


Browning yang Benar Meningkatkan Hasil Buah Sawit
Jawabannya ternyata sederhana: Mengelola sawit secara benar. Itu saja. Jika dikelola secara benar, hasilnya maksimal. Seperti penggunaan pupuk yang tepat hingga perlakuan tanaman sawit dalam pengerjaannya. Kami diajari oleh Pak Dahlan membedakan sawit mana yang buruk dan sawit mana yang baik. Sawit yang diperlakukan secara baik akan menghasilkan buah yang baik dan maksimal tanpa perlu menambah lahan sawit. Dari sinilah masyarakat Desa Dosan hidup. Tidak adil jika kita hanya berteriak ‘hentikan penggundulan hutan’ tapi tidak mau melihat dan memikirkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan hutan. Langkah nyata LSM Elang untuk menghentikan deforestasi merupakan salah satu contoh yang berhasil untuk mendukung komitmen masyarakat Desa Dosan yang akan tetap mempertahankan hutan mereka. Dari contoh baik ini kita pun bisa menciptakan solusi sesuai dengan kemampuan kita, seperti tulisan saya sebelumnya jika kita mau sedikit berimajinasi, karena kita adalah makhluk yang kreatif.
Buah Sawit, Perkilo Dihargai Sekitar 1000 Rupiah
“Desa Dosan yang berada di desa pedalaman tapi memiliki teknologi yang modern dan berpikiran nggak ndeso.”

--oOo--

Permasalahan Hutan Tidak Sesederhana Kelihatannya
Perjalanan kami lanjutkan. Setelah berpamitan dengan keluarga Pak Dahlan, Pak Kades dan LSM Elang, di tengah hari yang terik kami melanjutkan perjalanan ke Teluk Meranti. Terdapat hutan yang katanya masih cantik dan ada fenomena alam arus Bono yang sudah go international. Semangat saya yang sedang tinggi tiba-tiba menciut. Dalam perjalanan, kami melihat asap. Besar sekali. Kendaraan kami hentikan lalu kami turun. Saya gatal ingin melakukan sesuatu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Memaksakan untuk memadamkannya juga tidak mungkin. Dengan ember? Kemungkinan besar kita akan tewas duluan karena menghirup banyak asap dan tidak tahu cara memadamkan lahan gambut dengan benar. Kaki saya melemas seketika, ini mimpi buruk. Hutan, di depan mata saya sedang menangis, mereka terbakar dan saya tak berdaya.
Hutan Kita sedang Terbakar
Saya melihat Burung Rangkong terbang menjauh dan Labi-labi Moncong Babi yang kelihatannya juga sedang kabur lewat sungai. Saya hanya bisa mengamati dan beberapa saat kemudian truk pemadam kebakaran datang ke arah lokasi kami. Mereka mengambil air dari sungai dengan maksud memadamkan hutan yang ada jauh di depan kami. Setelah melanjutkan perjalanan saya menceritakan kegundahan hati saya. Mas Jeri dari Greenpeace bilang bahwa kebakaran tadi tidak seberapa, mungkin cuma dua atau tiga titik. Bahkan truk pemadam kebakaran tadi sangat tidak cukup untuk memadamkan hutan tadi. Saya mengiyakan dan membayangkan bagaimana dengan hutan bagian yang lain yang tak terjamah saat ini. Ah, bertambah pula kegundahan saya.

Sampai kami di Teluk Meranti. Lagi-lagi bintang kembali menghiasi kedatangan kami. Suara hiruk pikuk Burung Walet menyambut kedatangan kami. Katanya di sini Harimau Sumatera juga pernah terlihat berteduh saat hujan di salah satu pohon. Mendengar itu saya senang. Saya yakin, saya akan bisa bertemu dengan Harimau Sumatera nanti. Bagaimana dengan Bono di Sungai Kampar? Arus Bono yang terkenal sampai ke penjuru dunia tidak datang kali ini. Musim Bono yang besar ada pada bulan ke-11 dan 12, mungkin kita bisa ke sini lagi tahun ini.

Kami menginap di rumah panggung Pak Firdaus yang sangat luas. Ada Pak Dani sesepuh yang bekerja sebagai nelayan dan Bang Yanto yang paham betul tentang permasalahan utama di Teluk Meranti. Setelah makan malam dan perkenalan, kami memulai berbincang-bincang. Perbincangan ini membuat saya sakit kepala. Pembicaraan yang sedang kami lakukan sungguh intens dengan suasana yang agak tegang, ditambah nada bicara yang juga sedikit meninggi. Setelah mereka bercerita, saya mulai paham mengapa mereka bisa semarah itu. Masyarakat Teluk Meranti telah dibohongi, dikhianati, hingga diadu domba. Mas Afif dari Greenpeace bilang kepada saya, masalah hutan tidak sesederhana kelihatannya, bahkan hutan bisa membuat seseorang berpoligami dan ‘membunuh’ keluarga sendiri. Sungguh kepala saya bertambah sakit saat Pak Dani bilang, bohong jika ada yang bilang keadaan hutan di Teluk Meranti masih bagus dan sempurna. Sebenarnya apa sih yang sedang terjadi di sini?
1 km Setelah Hutan Di Depan Kita Ini Ternyata Telah Hancur
Sungguh kompleks. Ternyata dari jarak 1 km dari tepi sungai sudah merupakan HTI (Hutan Tanaman Industri). Padahal perusahaan yang mengelolanya menjanjikan dengan jarak 1,5 km. Mereka telah mengkorupsi 0,5 km hutan. Mereka telah membohongi masyarakat. Perubahan fungsi hutan ini termyata berdampak pada kualitas air sungai dan hasil tangkapan nelayan. Jika dulu Pak Dani berlayar selama satu bulan dengan hasil melimpah hingga hasil tangkapannya bisa ia gunakan untuk beristirahat selama 2 bulan, untuk sekarang, berlayar satu bulan hasilnya jauh berkurang hingga ia hanya bisa beristirahat selama 1 minggu saja. Pak Yusuf dan Bang Yanto bilang masyarakat masih mau untuk bertani bahkan mereka dulu tidak perlu membeli beras, tapi pada akhirnya terbentur permasalahan hama, seperti banyak sekali babi, monyet dan burung yang sudah tidak punya hutan untuk mencari makanannya sehingga mereka turun menyerang hasil pertanian masyarakat.

Semua ini terjadi karena uang. Pejabat setempat termasuk beberapa sesepuh di sana tergiur uang perusahaan. Pak Dani bahkan tak segan menyebutnya iblis. Uang membuat pejabat setempat membolehkan perusahaan tersebut mengambil hutan gambut untuk diubah menjadi hutan industri secara semena-mena. Perlawanan warga untuk mempertahankan hak atas bertahannya hutan malah dihadiahi dengan pemecatan Pak Firdaus dari ketua RW. Ada banyak permasalahan kompleks di sini yang tidak bisa saya jabarkan karena keterbatasan pengetahuan dan informasi yang saya terima, ‘musuh dalam selimut yang menyelimuti serigala berbulu domba’ adalah perumpamaan sederhana yang bisa saya berikan.

Setelah selesai dari pembicaraan yang cukup berat itu, Mas Iman yang merupakan orang perusahaan berkata bahwa seharusnya kejadian ini tidak terjadi seperti ini. Perusahaan pasti memberikan bentuk kompensasi sesuai yang diinginkan masyarakat yang telah disepakati, yang pasti dilaksanakan, tapi yang diulur adalah waktu pelaksanaan dalam hitungan beberapa bulan saja. Wah seharusnya seperti itu, tidak seperti di sini yang katanya memberikan kompensasi tapi tidak terealisasikan hingga bertahun-tahun. Pikiran kami lelah, kami butuh beristirahat.

Hari ke-3:
Pagi yang indah di Teluk Meranti. Kami siap berpetualang menyaksikan hutan di Kerumutan melewati Sungai Kampar. Aaaaaah... Indah sekali.. Cantik sekali.. Di sini, foto yang diambil asal jepret pun hasilnya akan jadi bagus. Ada banyak tanaman menjulang dan banyak sekali satwa-satwa eksotis, seperti Burung Pucung, Burung Ule, Burung Bubud, Burung Sriti, Beruk, Koka dan lain sebagainya. Terdapat pula ikan yang melompat-lompat yang sedang dimakan oleh Biawak.
Suasana Rimba Seperti yang Ada di Film-film
Kami mampir di rumah nelayan Ibu Rosma yang sederhana lengkap dengan tempat pengasapan ikan. Kami juga bertemu beberapa nelayan yang berkata bahwa hasil tangkapan ikan mereka sangat sedikit. Selain karena musim kemarau yang panas sehingga ikan segan untuk dekat-dekat dengan permukaan air, keberadaan hutan juga menjadi pengaruh besar. Kami bertemu Bang Awaludin dan Kak Nenen yang bercerita tentang tangkapan ikan mereka dan bahwa beberapa waktu yang lalu pembalak hutan yang tidak bertanggung jawab menabrak dan merusak jala bahkan lebih parahnya mengambil hasil tangkapan ikan mereka.
Rumah Nelayan dengan Lansekap yang Cantik
Kami pun mampir di area pembalakan hutan yang dimaksud. Terlihat bongkahan papan-papan kayu yang sudah dipotong untuk siap diangkut. Terdapat jalan setapak yang dibuat dari tumpukan kayu tersebut yang dibuat untuk memudahkan pengangkutan kayu dari dalam hutan dengan sepeda, lalu di bawa ke tepi sungai dan diangkut dengan perahu. Cara yang digunakan pun buruk sekali. Sangat tidak beradab. Mereka membakar beberapa area dan menumbangkan pohon-pohon dengan asal. Memang masyarakat sekitar menggunakan kayu di hutan dengan menggunakan beberapa pohon saja sebagai bahan untuk membangun rumah mereka, tapi tidak seperti yang dilakukan pembalak ini. Mereka jelas-jelas menggunakannya untuk dijual ke luar. Semoga pelaku dan otak di balik kehancuran hutan ini dihukum sepantasnya. Kami pun mengakhiri kunjungan kami dan kembali melalui Sungai Kampar. 
Hutan Kita yang Dihancurkan Secara Tidak Beradab
“Saya yakin masih ada harapan untuk hutan jika kebenaran ditegakkan dan kebathilan ditumpaskan.“


--oOo--

Gajah Sumateraku Sayang, Harimau Sumateraku Malang
Perjalanan di Kerumutan dan Teluk Meranti kami akhiri siang itu. Setelah sekitar 3 jam perjalanan, kami sampai di Camp Flying Squad di Taman Nasional Tesso Nilo. Dari penelitian LIPI, Tesso Nilo merupakan taman nasional yang memiliki jumlah spesies paling banyak. Sesampainya di sana seekor Gajah Sumatera yang cukup besar tiba-tiba berjalan di belakang saya! Saya, Mas Aloy dari MBDC dan Mas Gorga dari RACK Digital langsung mengantri untuk memeluk gajah tersebut. Rahman namanya, ia sudah berumur hampir 30 tahun. Selang beberapa waktu dua gajah yang lebih kecil dari Rahman bernama Teso dan Nela datang, ditunggangi oleh masing-masing Mahout-penjaga dan pelatih gajah. Setiap gajah memiliki Mahout untuk menemaninya.
Pemandangan dari Punggung Rahman Sangat Tinggi, Saya Terbang!
Saat kami datang, waktunya tepat sekali untuk gajah mandi di sore hari. Mereka mandi minimal dua kali sehari untuk mengurangi panas tubuhnya. Sungai tempat mandi gajah berjarak beberapa ratus meter dari camp. Saya bersama Mas Iman menunggangi Rahman, dan Inez dari Greeneration menunggangi Teso. Sampai di sungai, Rahman, Nela dan Teso menceburkan diri ke dalam air. Saya yang masih berada di punggung Rahman membantu memandikannya. Menggosok kepala, leher dan telinganya. Mereka menyelam, berdiri lalu menyelam lagi dengan interval waktu tertentu sesuai yang mahout instruksikan kepada mereka. Ritual mandi sore pun selesai, kami kembali ke camp lalu para gajah pergi untuk kembali ke shelter mereka.
Rahman Selesai Mandi
Malam kami habiskan untuk berbincang dengan beberapa mahout dan petugas yang berada di Taman Nasional Tesso Nilo. Masalah utama di sini adalah batas wilayah dan pengamanan lahan. Tidak adanya batas wilayah yang jelas di Tesso Nilo membuka peluang untuk hal tersebut. Sudah lama isu ini diangkat tapi penegakan hukum yang kurang jelas menjadikan hal ini terabaikan. Bahkan beberapa orang bisa bebas masuk ke dalam taman nasional untuk berburu atau melakukan perambahan. Hal ini menjadi ancaman bagi satwa di sini terutama Gajah dan Harimau Sumatera. Ada sekitar lebih dari 60 ekor gajah yang ditemui dengan belasan ekor yang sudah dilakukan pendataan DNA. Dan terdapat belasan harimau yang sempat ditemui dengan 7 ekor harimau yang sudah dilakukan pendataan DNA. Harimau Sumatera membutuhkan 5-10 kg daging perhari. Jika perburuan hewan dan perambahan hutan di Tesso Nilo berlanjut, maka tak ada makanan untuk harimau dan tak ada wilayah yang cukup luas untuk gajah. Itu berarti akhir dari hidup mereka. Saya juga bertanya tentang kamera jebakan. Kamera jebakan yang terpasang sebanyak lebih dari 60 buah berhasil menangkap gambar puluhan Gajah Sumatera, namun hanya satu saja untuk Harimau Sumatera. Saya berharap lebih banyak dari itu. Beberapa kamera yang dipasang juga banyak yang dicuri, mungkin sebenarnya akan ada banyak gambar yang bisa kita dapatkan jika pengamanan kawasan ini bisa ditingkatkan.

Hari ke-4:
Perjalanan terakhir pagi itu adalah melintasi hutan heterogen Taman Nasional Tesso Nilo yang dipimpin oleh Pak Junjung. Kami juga sempat bertemu Imbo-gajah kecil di perjalanan yang sepertinya ia ingin mengikuti kami. Mbak Melani dari Greenpeace dan Kak Lusiana menjadi peserta yang paling semangat untuk berteriak histeris pagi itu karena tidak menyangka medan yang akan kami tempuh tidak beralaskan jalan setapak yang rata saja, tetapi banyak halang rintangan dahan pohon, sungai, dan rawa-rawa berlumpur yang siap melahap kaki kita. Dan benar saja, banyak insiden yang terjadi seperti terjatuh, tercebur, dan serangan pacet.
Salah Satu Rintangan, Masih Banyak Rawa Menghadang
Saya sempat bertanya kepada Pak Junjung, apa yang harus kita lakukan jika bertemu Harimau Sumatera nanti? Pak Junjung bilang memang pernah ia membawa rombongan bertemu dengan Harimau Sumatera beberapa puluh meter di jalan depan mereka. Asalkan kita tidak memprovokasi dan tetap tenang, Harimau Sumatera akan pergi dan sama sekali tidak peduli akan kehadiran kita. Saya bertanya karena berharap bertemu satu ekor saja Harimau Sumatera. Tapi sepertinya tidak akan terwujud.

Saat telah berjalan lama di hutan, saya merasa sedih karena hingga hari terakhir, saya tidak sempat bertemu dengan satupun Harimau Sumatera. Saat itu saya berjalan paling depan dalam rombongan. Tiba-tiba saya mendengar sesuatu. Saya sangat yakin saya mendengarnya. Saya mendengar suara geraman seekor mamalia yang familiar dan yang sedang saya cari-cari. Saya sering mendengarnya di Kebun Binatang Surabaya karena akhir-akhir ini saya meneliti mereka. Bukan suara gajah, tupai, maupun monyet. Itu suara khas Harimau Sumatera, berada tidak jauh di sebelah kanan saya berjalan. Sengaja tidak saya beritahukan kepada yang lainnya. Cukup saya saja yang tahu, karena harimau di sini ternyata sangat pemalu karena suaranya terdengar melenyap. Perjalanan saya akhiri dengan rasa puas dan bahagia. Misi pribadi saya selesai.
Anak Gajah Berumur 3 Bulan, Diapit Imot dan Nela, Nela Sangat Menyayangi Adiknya.
Setelah kami mampir dari menara pengawas, kami kembali ke camp tapi mampir dulu menghampiri anak gajah kecil yang sangat imut. Kami bertemu dengan salah satu kepala pengawas Tesso Nilo yaitu Pak Suharna dari BKSDA. Ternyata penegakan hukum yang harus dilakukan secara tegas menjadi solusi utama masalah di Tesso Nilo. Personel keamanan yang sedikit seperti polisi hutan dan perlengkapan keamanan diri yang tidak dapat terealisasikan karena pemerintahan yang kurang mendukung akan memperparah keadaan Tesso Nilo. Tiga hari sudah kami lewati dan permasalahan sebenarnya bermuara pada satu titik yaitu ketegasan dan keseriusan pihak yang memiliki kewenangan lebih untuk menegakkan hukum dan menjaga hutan karena tanpa kesungguhan pihak yang ada di atas, pelaku kegiatan yang berada di bawah akan statis dan tidak bisa berkembang.

“Hanya kita yang dapat melindungi hutan, keanekaragaman dan keindahcantikan di dalamnya.”

--oOo--

Epilog
Petualangan dalam Bearing Witness Greenpeace Indonesia pun berakhir. Dan kita juga punya rumus baru:

Rumus:
1.      Nggak peduli hutan itu ndeso.
2.      Pilihlah calon pemimpin yang memiliki kepedulian tentang hutan. Tanyakan kepada mereka secara langsung seperti apa kepedulian mereka pada hutan. Buat apa memilih pemimpin yang ndeso.
3.      Banyak yang menggantungkan hidupnya secara langsung pada hutan, dan kita pun secara tidak langsung. Pemimpin ndeso yang tidak memiliki kepedulian pada hutan, berarti tidak akan peduli pula pada kehidupan kita.
4.      Dengan memilih calon pemimpin yang memiliki perhatian besar pada hutan, itu berarti kita akan menyelamatkan lingkungan, satwa, dan keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk hidup termasuk anak cucu kita.


"Saya secara pribadi mengajak teman-teman sekalian untuk menjadi pemimpin yang nggak ndeso. Pimpinlah dan ajaklah sekeliling kita untuk peduli akan hutan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang bisa kita lakukan secara kreatif. Menulis, mendesain, meneliti, atau melakukan kegiatan sekecil apapun yang kita dedikasikan untuk hutan. Greenpeace juga selalu menawarkan banyak hal yang dapat kita lakukan demi hutan. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi kita lagi untuk pura-pura tidak tahu dan tidak mau berbuat apa-apa untuk melindungi hutan."


Salam saya sampaikan kepada semua pelindung hutan yang keren dan berpikiran maju.
Afif Web Developer

Afif Zakariya seorang mahasiswa arsitektur yang memiliki hobi travelling, membaca, berenang, dan menulis blog. Dia bercita-cita untuk menguasai dunia.