Senin, 12 Mei 2014

TOP 5: Kumpulan Let It Go - Indonesian Cover di YouTube

Lagu Let It Go dari movie Frozen sangat fenomenal di seluruh penjuru dunia. Lagu tersebut dicover dalam berbagai bahasa yang ada di dunia, tak terkecuali Bahasa Indonesia dan bahasa daerah seperti bahasa Jawa dan Sunda. Yuk kita simak, TOP 5 beserta bonus!

1. Disney FROZEN Let It Go in Bahasa Indonesia [cover]
Komen: Cover Let It Go ini paling populer sampai saat ini. Youtubers cewek ini menyanyikan let it go dengan suara halusnya. Videonya menyediakan lirik sehingga kita bisa langsung sing along. Saya paling suka bagian "pikiranku meledak seperti bom es!". Awesome.



2. Disney Frozen - Let it Go ( Indonesian Cover )
Komen: Cover yang satu ini dinyanyikan oleh laki-laki. Nadanya dipaskan dengan range vocal cowok jadi buat para cowok-cowok bisa langsung ikutan nyanyi dan nggak khawatir nadanya ketinggian.



3. Pék Waé (Sundanese) Let It Go Parody
Komen: Whoa. Warning! Kudu 18+ yang pengen denger ini. Banyak umpatan dalam bahasa Sunda. Jadi dia lebih menyebutnya parody daripada cover. Dan banyak yang terhibur XD. Suara yang kuat di nada tinggi membuat ini terdengar oke.



4. Uculno (Let It Go) - Frozen Cover - Basa Jawa
Komen: No komen deh, karena ini saya yang nyanyi HAHAHA. Kalau lihat di komen sana, katanya sih suaranya bagus. Tapi karena ditranslate langsung dari Google Translate kita tercinta, ada bagian kalimat bahasa jawa yang tidak dimengerti. Ya itulah gugel trenslet XD. Tapi untungnya juga banyak yang terhibur.



5. NOWELA - LET IT GO (Frozen - Demi Lovato/Idina Menzel) - Spektakuler Show 5 - Indonesian Idol 2014
Komen: Nowela Idol menggabungkan lagu Let It Go dengan bahasa Papua dan Indonesia. Salah satu penampilan Let It Go terbaik yang pernah saya dengar.



---oOo---

BONUS:
Uculno! - Let it Go ver. Jowo
Komen: Versi ini benar-benar koplak. Kalau versi YouTube lebih serius, versi Soundcloud ini bikin ngakak guling-guling.

Senin, 31 Maret 2014

Surat Terbuka Dari Seekor Harimau Sumatera untuk Manusia dan Calon Pemimpin Di Negeri Ini


Yang terhormat wahai kawanku ataupun calon pemimpin di negeri ini. Simaklah kisahku yang kutitipkan lewat blog WWF. Aku butuh segera bantuan kawan-kawan sekalian.

--oOo--

Namaku Ringo, seekor harimau Sumatera. Aku tinggal di pedalaman hutan Sumatera bersama kedua orangtua dan dua adik kecilku yang bernama Nina dan Nancy. Aku tidak punya banyak teman, semua hewan yang melihatku dalam beberapa meter saja akan langsung mengambil langkah seribu meninggalkanku. Padahal aku tidak akan sekalipun mengganggu mereka jika aku tidak lapar. Namun tidak dengan dua gajah Sumatera yang sedari kecil telah kukenal, mereka tak akan lari. Mereka bernama Teso dan Nela yang baik hati. Bahkan kami saling berbagi sungai dan kubangan air untuk minum maupun mandi, dan kami menghormati satu sama lain karena kami telah memiliki wilayah yang menjadi tanggung jawab kami sendiri-sendiri.

Ayah pernah bercerita bahwa di hutan, kami bukanlah makhluk hidup yang berada di puncak rantai makanan. Manusia, itulah nama makhluk mengerikan yang ayah sebutkan. Aku tidak pernah bertemu manusia seumur hidupku, tapi ayah pernah dua kali bertemu dengan mereka secara tidak sengaja. Ayah bilang, manusia itu mengerikan. Mereka berdiri dan berjalan hanya dengan dua kaki. Mereka juga membawa motor gergaji, senapan dan mesin-mesin besar yang berisik untuk menghancurkan rumah kami dan rumah para gajah. Ayah berpesan kepadaku untuk tidak pernah mendekati manusia, jika suatu saat kami sempat berjumpa dengan mereka. Aku berjanji kepada Ayah tentang hal itu.

Selama bertahun-tahun, kami hidup dengan nyaman dan bahagia di sini. Tapi tidak lagi sejak malam itu. Suara kencang terdengar membangunkan kami. Terdengar pohon-pohon tumbang dan guncangan hebat. Ayah berteriak, “Itu mesin Manusia! Manusia di sini!”. Ayah menyuruhku segera kabur bersama kedua adikku dan mengikuti Ibu. Tapi aku tak bisa menggerakkan kaki-kakiku. Aku terpaku melihat makhluk yang baru pertama kali aku lihat. Aku bertemu manusia, untuk yang pertama kalinya. Monster dua kaki yang selalu ayah ceritakan. Mereka tak jauh dariku, tapi salah seorang dari mereka sangat dekat dengan Ayah. Ayah terlihat bermaksud untuk mengusir mereka. Ayah berlari tapi dihentakan kakinya yang keempat, terdengar suara letusan dan seketika ayah jatuh tersungkur. Ayah tidak bergerak, dan tidak bersuara lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku mencoba berjalan mendekati Ayah tapi Ibu berteriak kepadaku untuk berhenti. Kejadiannya cepat, aku mendengar Ibu mengaum dan berlari ke arahku. Terdengar letusan lagi dan kali ini ibu yang tersungkur. Aku mencium darah segar keluar dari tubuh Ibu. Ibu sempat menggumamkan kata-kata, "Selamatkan adik-adikmu...". Aku mengangguk dan segera pergi dari sana membawa Nina dan Nancy.

Setelah berlari cukup jauh, kami berhasil menemukan tempat persembunyian yang cukup aman. Aku berusaha menenangkan Nina dan Nancy yang sedari tadi gemetar. Masih dicekam rasa ketakutan, kami pun terlelap. Keesokan paginya, suara manusia dan mesin-mesinnya sudah tak terdengar lagi. Kami keluar dari tempat persembunyian kami dan melihat hutan yang tadinya berada beberapa ratus kaki di depan kami sudah tak berbentuk lagi. Tak sengaja kami bertemu Teso dan Nela yang juga kehilangan orangtua mereka semalam.

Kami lapar, kami segera mencari makanan. Teso dan Nela masih bisa mengambil tanaman dan rumput yang melimpah di sekitar mereka. Aku sudah bisa berburu sejak kecil karena Ibu yang mengajariku. Tapi kedua adik kecilku belum mampu untuk itu. Apalagi, kami makan cukup banyak sekitar 5 hingga 10 kg perhari. Aku harus mencarikan makanan untuk mereka. Berkurangnya habitat kami yaitu hutan mengakibatkan populasi beberapa hewan untuk kami makan menjadi sangat langka. Sudah tidak ada banyak Rusa karena sepertinya Manusia juga gemar memangsa mereka. Kami masih bisa makan Babi Hutan tapi bisa dibilang itu adalah daftar makanan paling terakhir untuk kami makan. Mungkin masalah yang akan dihadapi Teso dan Nela nanti adalah saat mereka berpindah tempat. Mereka sering sekali berpindah tempat sewaktu-waktu ke sarang-sarang yang pernah mereka buat. Mereka yang membutuhkan lahan yang sangat luas untuk berpindah-pindah pasti akan sangat kebingungan karena sarang mereka sudah tiada.

Kawan, sungguh aku butuh bantuanmu. Tanpa bantuan kalian, aku tidak dapat menjaga adik-adikku. Aku tidak bisa melawan Manusia. Aku yakin tidak semua Manusia itu jahat. Aku yakin masih banyak Manusia baik seperti kalian yang mau mendengar keluh kesahku. Tolong aku. Selamatkan hutanku. Hutan kita.

--oOo--

Keterangan:
Kisah ini hanya fiktif belaka.
Nama Ringo, Nani dan Nancy diambil dari nama harimau Sumatera yang ada di Kebun Binatang Surabaya.
Nama Teso dan Nela adalah nama gajah Sumatera yang ada di Taman Nasional Tesso Nilo.

Nggak Peduli Hutan Itu Ndeso!

Prolog
Saat saya mendapatkan misi untuk mengikuti Bearing Witness Greenpeace Indonesia, saya merasa ini adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Bersama lebih dari 10 orang yang mengikuti perjalanan ini, saya akan mengajak teman-teman mengikuti petualangan yang telah kami alami. Siapkan senjata dan popcorn kalian karena ini adalah petualangan yang sangat seru.
CATATAN: ‘Ndeso’ disini kita sepakati untuk diartikan sebagai kata norak, nggak keren, atau udik, tidak berpikiran maju. 

Desa Dosan – Desa yang Nggak Ndeso
Hari ke-1:
Tujuan awal kami adalah Desa Dosan, tempat dimana sawit yang konon katanya ramah lingkungan-desa yang nggak ndeso karena sudah berpikiran jauh lebih maju. Jalanan yang awalnya rata, tiba-tiba menjadi berkelok dan penuh pasir berbatu. Pemandangan yang terlihat sepanjang perjalanan adalah lahan sawit. Keberadaan sawit yang berlebihan dan kondisi jalan yang tidak biasa membuat saya enek dan mual. Perjalanan masih di awal namun saya sudah K.O, saya mabok sawit-eh mabok darat. Untungnya jalan kembali membaik dan pemandangan yang akan saya lihat selanjutnya membuat saya melupakan kemabokan saya. Ya, bekas hutan terbakarlah yang saya saksikan. Bang Zamzami dari Greenpeace yang saat itu bersama saya bilang, ini hanya sebagian kecil saja karena kita akan melihat lebih dari ini di perjalanan esok. Saya hanya bisa melongo tidak percaya. Lebih tepatnya tidak mau mempercayainya.
Bekas Terbakarnya Hutan di Lahan Gambut
Setelah sekitar 4 jam di perjalanan akhirnya kami tiba. Sampai di kawasan Desan Dosan,  langit sudah tak bercahaya, hanya gelap yang ditaburi bintang-bintang. Di sana kami disambut dengan sangat baik oleh bapak Kepala Desa Dosan dan keluarga Pak Dahlan. Pak Dahlah adalah salah satu tokoh legendaris Desa Dosan yang mengenalkan warga pada ilmu tanaman sawit yang diterapkan tahun 2003 untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, karena pak Kades bilang dulunya pada tahun 2000 Desa Dosan masih termasuk wilayah yang terbelakang atau IDT (Inpres Desa Tertinggal). Dengan dibantu oleh LSM Elang yang masuk tahun 2004 dan melakukan penelitian selama satu tahun, kualitas tanaman sawit meningkat drastis tanpa menambah jumlah lahan. Bagaimana caranya?


Saat itu saya masih tidak percaya ada taman sawit yang ramah lingkungan. Yang saya tahu sebelum ini, sawit itu tanaman jahat. Jahat sekali. Memang menghasilkan, namun pengrusakan yang diakibatkannya tidak sebanding dengan yang kita dapatkan. Mereka menyerap air dengan egois dan mereka dianggap sebagai raja hingga orang-orang menghalalkan kehancuran lahan gambut. Saya tidak paham. Kerisauan hati ini akan terjawab keesokan hari, karena malam itu sudah larut, waktunya kami untuk beristirahat.

Hari ke-2:
Ternyata tak jauh dari tempat kami, tersembuyi danau yang indah, Danau Naga Sakti namanya. Danau Nagasakti memang sakti karena memiliki banyak kesaktian. Saat musim hujan tidak pernah meluap dan banjir. Saat kemarau tidak pernah kering dan berkurang. Airnya cukup bening padahal berada di lahan gambut yang biasanya air berwarna kemerahan. Airnya juga tidak bisa diambil dengan pompa padahal sudah didirikan bangunan untuk itu. Di sini juga merupakan tempat tinggal berbagai satwa dan pernah dijumpai Harimau Sumatera, tapi tidak ada tanda-tanda mereka saat kami berada di sana, begitu pula seekor Naga yang dikisahkan hidup di dasar danau untuk menjaga kawasan Danau Naga Sakti. Tak apa, karena kami ditemani seekor Bangau Hitam dan kicauan Monyet-monyet yang sepertinya sedang sarapan di sana.
Danau Naga Sakti yang Sakti
Lanjut perjalanan kami ke lahan sawit. Ini dia tanaman jahat yang memandangnya saja sudah membuat perut saya mules. Tapi sebentar lagi permasalahan perut saya akan terobati karena saya sadar, tak semua sawit itu jahat. Sawit yang memiliki gelar ‘Ramah Lingkungan’ harus punya satu syarat utama yaitu tidak melakukan pengrusakan lingkungan ataupun memberikan efek buruk pada lingkungan. Dan di sinilah sawit ramah lingkungan itu berada. Tanpa perlu melakukan Ekstensifikasi seperti penambahan lahan sawit atau saya lebih suka menyebutnya menghancurkan lingkungan, Intensifikasi sawit menjadi solusi modern. Dulunya dalam 2 hektar lahan sawit hanya menghasilkan 400 kg buah sawit, tapi setelah dilakukan Intensifikasi, dalam 2 hektar hasilnya berangsur-angsur naik menjadi 700 kg bahkan mencapai 1,4 ton lebih. Sihir apa ini? Apakah kesaktian Naga Sakti?


Browning yang Benar Meningkatkan Hasil Buah Sawit
Jawabannya ternyata sederhana: Mengelola sawit secara benar. Itu saja. Jika dikelola secara benar, hasilnya maksimal. Seperti penggunaan pupuk yang tepat hingga perlakuan tanaman sawit dalam pengerjaannya. Kami diajari oleh Pak Dahlan membedakan sawit mana yang buruk dan sawit mana yang baik. Sawit yang diperlakukan secara baik akan menghasilkan buah yang baik dan maksimal tanpa perlu menambah lahan sawit. Dari sinilah masyarakat Desa Dosan hidup. Tidak adil jika kita hanya berteriak ‘hentikan penggundulan hutan’ tapi tidak mau melihat dan memikirkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan hutan. Langkah nyata LSM Elang untuk menghentikan deforestasi merupakan salah satu contoh yang berhasil untuk mendukung komitmen masyarakat Desa Dosan yang akan tetap mempertahankan hutan mereka. Dari contoh baik ini kita pun bisa menciptakan solusi sesuai dengan kemampuan kita, seperti tulisan saya sebelumnya jika kita mau sedikit berimajinasi, karena kita adalah makhluk yang kreatif.
Buah Sawit, Perkilo Dihargai Sekitar 1000 Rupiah
“Desa Dosan yang berada di desa pedalaman tapi memiliki teknologi yang modern dan berpikiran nggak ndeso.”

--oOo--

Permasalahan Hutan Tidak Sesederhana Kelihatannya
Perjalanan kami lanjutkan. Setelah berpamitan dengan keluarga Pak Dahlan, Pak Kades dan LSM Elang, di tengah hari yang terik kami melanjutkan perjalanan ke Teluk Meranti. Terdapat hutan yang katanya masih cantik dan ada fenomena alam arus Bono yang sudah go international. Semangat saya yang sedang tinggi tiba-tiba menciut. Dalam perjalanan, kami melihat asap. Besar sekali. Kendaraan kami hentikan lalu kami turun. Saya gatal ingin melakukan sesuatu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Memaksakan untuk memadamkannya juga tidak mungkin. Dengan ember? Kemungkinan besar kita akan tewas duluan karena menghirup banyak asap dan tidak tahu cara memadamkan lahan gambut dengan benar. Kaki saya melemas seketika, ini mimpi buruk. Hutan, di depan mata saya sedang menangis, mereka terbakar dan saya tak berdaya.
Hutan Kita sedang Terbakar
Saya melihat Burung Rangkong terbang menjauh dan Labi-labi Moncong Babi yang kelihatannya juga sedang kabur lewat sungai. Saya hanya bisa mengamati dan beberapa saat kemudian truk pemadam kebakaran datang ke arah lokasi kami. Mereka mengambil air dari sungai dengan maksud memadamkan hutan yang ada jauh di depan kami. Setelah melanjutkan perjalanan saya menceritakan kegundahan hati saya. Mas Jeri dari Greenpeace bilang bahwa kebakaran tadi tidak seberapa, mungkin cuma dua atau tiga titik. Bahkan truk pemadam kebakaran tadi sangat tidak cukup untuk memadamkan hutan tadi. Saya mengiyakan dan membayangkan bagaimana dengan hutan bagian yang lain yang tak terjamah saat ini. Ah, bertambah pula kegundahan saya.

Sampai kami di Teluk Meranti. Lagi-lagi bintang kembali menghiasi kedatangan kami. Suara hiruk pikuk Burung Walet menyambut kedatangan kami. Katanya di sini Harimau Sumatera juga pernah terlihat berteduh saat hujan di salah satu pohon. Mendengar itu saya senang. Saya yakin, saya akan bisa bertemu dengan Harimau Sumatera nanti. Bagaimana dengan Bono di Sungai Kampar? Arus Bono yang terkenal sampai ke penjuru dunia tidak datang kali ini. Musim Bono yang besar ada pada bulan ke-11 dan 12, mungkin kita bisa ke sini lagi tahun ini.

Kami menginap di rumah panggung Pak Firdaus yang sangat luas. Ada Pak Dani sesepuh yang bekerja sebagai nelayan dan Bang Yanto yang paham betul tentang permasalahan utama di Teluk Meranti. Setelah makan malam dan perkenalan, kami memulai berbincang-bincang. Perbincangan ini membuat saya sakit kepala. Pembicaraan yang sedang kami lakukan sungguh intens dengan suasana yang agak tegang, ditambah nada bicara yang juga sedikit meninggi. Setelah mereka bercerita, saya mulai paham mengapa mereka bisa semarah itu. Masyarakat Teluk Meranti telah dibohongi, dikhianati, hingga diadu domba. Mas Afif dari Greenpeace bilang kepada saya, masalah hutan tidak sesederhana kelihatannya, bahkan hutan bisa membuat seseorang berpoligami dan ‘membunuh’ keluarga sendiri. Sungguh kepala saya bertambah sakit saat Pak Dani bilang, bohong jika ada yang bilang keadaan hutan di Teluk Meranti masih bagus dan sempurna. Sebenarnya apa sih yang sedang terjadi di sini?
1 km Setelah Hutan Di Depan Kita Ini Ternyata Telah Hancur
Sungguh kompleks. Ternyata dari jarak 1 km dari tepi sungai sudah merupakan HTI (Hutan Tanaman Industri). Padahal perusahaan yang mengelolanya menjanjikan dengan jarak 1,5 km. Mereka telah mengkorupsi 0,5 km hutan. Mereka telah membohongi masyarakat. Perubahan fungsi hutan ini termyata berdampak pada kualitas air sungai dan hasil tangkapan nelayan. Jika dulu Pak Dani berlayar selama satu bulan dengan hasil melimpah hingga hasil tangkapannya bisa ia gunakan untuk beristirahat selama 2 bulan, untuk sekarang, berlayar satu bulan hasilnya jauh berkurang hingga ia hanya bisa beristirahat selama 1 minggu saja. Pak Yusuf dan Bang Yanto bilang masyarakat masih mau untuk bertani bahkan mereka dulu tidak perlu membeli beras, tapi pada akhirnya terbentur permasalahan hama, seperti banyak sekali babi, monyet dan burung yang sudah tidak punya hutan untuk mencari makanannya sehingga mereka turun menyerang hasil pertanian masyarakat.

Semua ini terjadi karena uang. Pejabat setempat termasuk beberapa sesepuh di sana tergiur uang perusahaan. Pak Dani bahkan tak segan menyebutnya iblis. Uang membuat pejabat setempat membolehkan perusahaan tersebut mengambil hutan gambut untuk diubah menjadi hutan industri secara semena-mena. Perlawanan warga untuk mempertahankan hak atas bertahannya hutan malah dihadiahi dengan pemecatan Pak Firdaus dari ketua RW. Ada banyak permasalahan kompleks di sini yang tidak bisa saya jabarkan karena keterbatasan pengetahuan dan informasi yang saya terima, ‘musuh dalam selimut yang menyelimuti serigala berbulu domba’ adalah perumpamaan sederhana yang bisa saya berikan.

Setelah selesai dari pembicaraan yang cukup berat itu, Mas Iman yang merupakan orang perusahaan berkata bahwa seharusnya kejadian ini tidak terjadi seperti ini. Perusahaan pasti memberikan bentuk kompensasi sesuai yang diinginkan masyarakat yang telah disepakati, yang pasti dilaksanakan, tapi yang diulur adalah waktu pelaksanaan dalam hitungan beberapa bulan saja. Wah seharusnya seperti itu, tidak seperti di sini yang katanya memberikan kompensasi tapi tidak terealisasikan hingga bertahun-tahun. Pikiran kami lelah, kami butuh beristirahat.

Hari ke-3:
Pagi yang indah di Teluk Meranti. Kami siap berpetualang menyaksikan hutan di Kerumutan melewati Sungai Kampar. Aaaaaah... Indah sekali.. Cantik sekali.. Di sini, foto yang diambil asal jepret pun hasilnya akan jadi bagus. Ada banyak tanaman menjulang dan banyak sekali satwa-satwa eksotis, seperti Burung Pucung, Burung Ule, Burung Bubud, Burung Sriti, Beruk, Koka dan lain sebagainya. Terdapat pula ikan yang melompat-lompat yang sedang dimakan oleh Biawak.
Suasana Rimba Seperti yang Ada di Film-film
Kami mampir di rumah nelayan Ibu Rosma yang sederhana lengkap dengan tempat pengasapan ikan. Kami juga bertemu beberapa nelayan yang berkata bahwa hasil tangkapan ikan mereka sangat sedikit. Selain karena musim kemarau yang panas sehingga ikan segan untuk dekat-dekat dengan permukaan air, keberadaan hutan juga menjadi pengaruh besar. Kami bertemu Bang Awaludin dan Kak Nenen yang bercerita tentang tangkapan ikan mereka dan bahwa beberapa waktu yang lalu pembalak hutan yang tidak bertanggung jawab menabrak dan merusak jala bahkan lebih parahnya mengambil hasil tangkapan ikan mereka.
Rumah Nelayan dengan Lansekap yang Cantik
Kami pun mampir di area pembalakan hutan yang dimaksud. Terlihat bongkahan papan-papan kayu yang sudah dipotong untuk siap diangkut. Terdapat jalan setapak yang dibuat dari tumpukan kayu tersebut yang dibuat untuk memudahkan pengangkutan kayu dari dalam hutan dengan sepeda, lalu di bawa ke tepi sungai dan diangkut dengan perahu. Cara yang digunakan pun buruk sekali. Sangat tidak beradab. Mereka membakar beberapa area dan menumbangkan pohon-pohon dengan asal. Memang masyarakat sekitar menggunakan kayu di hutan dengan menggunakan beberapa pohon saja sebagai bahan untuk membangun rumah mereka, tapi tidak seperti yang dilakukan pembalak ini. Mereka jelas-jelas menggunakannya untuk dijual ke luar. Semoga pelaku dan otak di balik kehancuran hutan ini dihukum sepantasnya. Kami pun mengakhiri kunjungan kami dan kembali melalui Sungai Kampar. 
Hutan Kita yang Dihancurkan Secara Tidak Beradab
“Saya yakin masih ada harapan untuk hutan jika kebenaran ditegakkan dan kebathilan ditumpaskan.“


--oOo--

Gajah Sumateraku Sayang, Harimau Sumateraku Malang
Perjalanan di Kerumutan dan Teluk Meranti kami akhiri siang itu. Setelah sekitar 3 jam perjalanan, kami sampai di Camp Flying Squad di Taman Nasional Tesso Nilo. Dari penelitian LIPI, Tesso Nilo merupakan taman nasional yang memiliki jumlah spesies paling banyak. Sesampainya di sana seekor Gajah Sumatera yang cukup besar tiba-tiba berjalan di belakang saya! Saya, Mas Aloy dari MBDC dan Mas Gorga dari RACK Digital langsung mengantri untuk memeluk gajah tersebut. Rahman namanya, ia sudah berumur hampir 30 tahun. Selang beberapa waktu dua gajah yang lebih kecil dari Rahman bernama Teso dan Nela datang, ditunggangi oleh masing-masing Mahout-penjaga dan pelatih gajah. Setiap gajah memiliki Mahout untuk menemaninya.
Pemandangan dari Punggung Rahman Sangat Tinggi, Saya Terbang!
Saat kami datang, waktunya tepat sekali untuk gajah mandi di sore hari. Mereka mandi minimal dua kali sehari untuk mengurangi panas tubuhnya. Sungai tempat mandi gajah berjarak beberapa ratus meter dari camp. Saya bersama Mas Iman menunggangi Rahman, dan Inez dari Greeneration menunggangi Teso. Sampai di sungai, Rahman, Nela dan Teso menceburkan diri ke dalam air. Saya yang masih berada di punggung Rahman membantu memandikannya. Menggosok kepala, leher dan telinganya. Mereka menyelam, berdiri lalu menyelam lagi dengan interval waktu tertentu sesuai yang mahout instruksikan kepada mereka. Ritual mandi sore pun selesai, kami kembali ke camp lalu para gajah pergi untuk kembali ke shelter mereka.
Rahman Selesai Mandi
Malam kami habiskan untuk berbincang dengan beberapa mahout dan petugas yang berada di Taman Nasional Tesso Nilo. Masalah utama di sini adalah batas wilayah dan pengamanan lahan. Tidak adanya batas wilayah yang jelas di Tesso Nilo membuka peluang untuk hal tersebut. Sudah lama isu ini diangkat tapi penegakan hukum yang kurang jelas menjadikan hal ini terabaikan. Bahkan beberapa orang bisa bebas masuk ke dalam taman nasional untuk berburu atau melakukan perambahan. Hal ini menjadi ancaman bagi satwa di sini terutama Gajah dan Harimau Sumatera. Ada sekitar lebih dari 60 ekor gajah yang ditemui dengan belasan ekor yang sudah dilakukan pendataan DNA. Dan terdapat belasan harimau yang sempat ditemui dengan 7 ekor harimau yang sudah dilakukan pendataan DNA. Harimau Sumatera membutuhkan 5-10 kg daging perhari. Jika perburuan hewan dan perambahan hutan di Tesso Nilo berlanjut, maka tak ada makanan untuk harimau dan tak ada wilayah yang cukup luas untuk gajah. Itu berarti akhir dari hidup mereka. Saya juga bertanya tentang kamera jebakan. Kamera jebakan yang terpasang sebanyak lebih dari 60 buah berhasil menangkap gambar puluhan Gajah Sumatera, namun hanya satu saja untuk Harimau Sumatera. Saya berharap lebih banyak dari itu. Beberapa kamera yang dipasang juga banyak yang dicuri, mungkin sebenarnya akan ada banyak gambar yang bisa kita dapatkan jika pengamanan kawasan ini bisa ditingkatkan.

Hari ke-4:
Perjalanan terakhir pagi itu adalah melintasi hutan heterogen Taman Nasional Tesso Nilo yang dipimpin oleh Pak Junjung. Kami juga sempat bertemu Imbo-gajah kecil di perjalanan yang sepertinya ia ingin mengikuti kami. Mbak Melani dari Greenpeace dan Kak Lusiana menjadi peserta yang paling semangat untuk berteriak histeris pagi itu karena tidak menyangka medan yang akan kami tempuh tidak beralaskan jalan setapak yang rata saja, tetapi banyak halang rintangan dahan pohon, sungai, dan rawa-rawa berlumpur yang siap melahap kaki kita. Dan benar saja, banyak insiden yang terjadi seperti terjatuh, tercebur, dan serangan pacet.
Salah Satu Rintangan, Masih Banyak Rawa Menghadang
Saya sempat bertanya kepada Pak Junjung, apa yang harus kita lakukan jika bertemu Harimau Sumatera nanti? Pak Junjung bilang memang pernah ia membawa rombongan bertemu dengan Harimau Sumatera beberapa puluh meter di jalan depan mereka. Asalkan kita tidak memprovokasi dan tetap tenang, Harimau Sumatera akan pergi dan sama sekali tidak peduli akan kehadiran kita. Saya bertanya karena berharap bertemu satu ekor saja Harimau Sumatera. Tapi sepertinya tidak akan terwujud.

Saat telah berjalan lama di hutan, saya merasa sedih karena hingga hari terakhir, saya tidak sempat bertemu dengan satupun Harimau Sumatera. Saat itu saya berjalan paling depan dalam rombongan. Tiba-tiba saya mendengar sesuatu. Saya sangat yakin saya mendengarnya. Saya mendengar suara geraman seekor mamalia yang familiar dan yang sedang saya cari-cari. Saya sering mendengarnya di Kebun Binatang Surabaya karena akhir-akhir ini saya meneliti mereka. Bukan suara gajah, tupai, maupun monyet. Itu suara khas Harimau Sumatera, berada tidak jauh di sebelah kanan saya berjalan. Sengaja tidak saya beritahukan kepada yang lainnya. Cukup saya saja yang tahu, karena harimau di sini ternyata sangat pemalu karena suaranya terdengar melenyap. Perjalanan saya akhiri dengan rasa puas dan bahagia. Misi pribadi saya selesai.
Anak Gajah Berumur 3 Bulan, Diapit Imot dan Nela, Nela Sangat Menyayangi Adiknya.
Setelah kami mampir dari menara pengawas, kami kembali ke camp tapi mampir dulu menghampiri anak gajah kecil yang sangat imut. Kami bertemu dengan salah satu kepala pengawas Tesso Nilo yaitu Pak Suharna dari BKSDA. Ternyata penegakan hukum yang harus dilakukan secara tegas menjadi solusi utama masalah di Tesso Nilo. Personel keamanan yang sedikit seperti polisi hutan dan perlengkapan keamanan diri yang tidak dapat terealisasikan karena pemerintahan yang kurang mendukung akan memperparah keadaan Tesso Nilo. Tiga hari sudah kami lewati dan permasalahan sebenarnya bermuara pada satu titik yaitu ketegasan dan keseriusan pihak yang memiliki kewenangan lebih untuk menegakkan hukum dan menjaga hutan karena tanpa kesungguhan pihak yang ada di atas, pelaku kegiatan yang berada di bawah akan statis dan tidak bisa berkembang.

“Hanya kita yang dapat melindungi hutan, keanekaragaman dan keindahcantikan di dalamnya.”

--oOo--

Epilog
Petualangan dalam Bearing Witness Greenpeace Indonesia pun berakhir. Dan kita juga punya rumus baru:

Rumus:
1.      Nggak peduli hutan itu ndeso.
2.      Pilihlah calon pemimpin yang memiliki kepedulian tentang hutan. Tanyakan kepada mereka secara langsung seperti apa kepedulian mereka pada hutan. Buat apa memilih pemimpin yang ndeso.
3.      Banyak yang menggantungkan hidupnya secara langsung pada hutan, dan kita pun secara tidak langsung. Pemimpin ndeso yang tidak memiliki kepedulian pada hutan, berarti tidak akan peduli pula pada kehidupan kita.
4.      Dengan memilih calon pemimpin yang memiliki perhatian besar pada hutan, itu berarti kita akan menyelamatkan lingkungan, satwa, dan keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk hidup termasuk anak cucu kita.


"Saya secara pribadi mengajak teman-teman sekalian untuk menjadi pemimpin yang nggak ndeso. Pimpinlah dan ajaklah sekeliling kita untuk peduli akan hutan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang bisa kita lakukan secara kreatif. Menulis, mendesain, meneliti, atau melakukan kegiatan sekecil apapun yang kita dedikasikan untuk hutan. Greenpeace juga selalu menawarkan banyak hal yang dapat kita lakukan demi hutan. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi kita lagi untuk pura-pura tidak tahu dan tidak mau berbuat apa-apa untuk melindungi hutan."


Salam saya sampaikan kepada semua pelindung hutan yang keren dan berpikiran maju.

Sabtu, 15 Februari 2014

Saatnya Melindungi Hutan dengan Kreatif

PROLOG
Akhir-akhir ini kita sering mendengar beberapa hewan yang ditemukan mati di kebun binatang? Salah siapa? Kalau mau menuding-nuding ini-itu yang salah, ya mudah saja. Tapi jangan terlalu cepat menyalahkan, karena sebenarnya kejadian yang tragis pada satwa-satwa tersebut secara tidak langsung merupakan salah kita. Tidak percaya?

--oOo--

HUTAN ADALAH PELINDUNG
Kebun binatang atau taman safari merupakan sebagian jenis lembaga konservasi yang ada di Indonesia. Mungkin dari kita ada yang berpikir, mengapa satwa yang sudah memiliki habitat sendiri, dipindah ke kebun binatang atau ke taman safari? Itulah tujuan lembaga konservasi ex-situ – lembaga konservasi di luar habitat satwa, bisa dibilang benteng terakhir untuk melindungi satwa.

Jika konservasi ex-situ perlu ditingkatkan kualitasnya, bagaimana dengan keadaan lembaga konservasi yang berada di dalam habitat asal satwa atau yang disebut in-situ? Hutan di Indonesia yang kaya dan beragam merupakan habitat utama bermacam-macam satwa yang terancam punah. Jika melihat sumber ini http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/, maka hutan akan habis dalam 10-20 tahun ke depan. Jika hutan habis maka masih habislah pula keberadaan satwa.
Tapi masih ada lembaga konservasi ex-situ sebagai benteng terakhir kan? Lalu untuk apa repot-repot menjaga hutan?
Sayang sekali, saat kita berbicara mengenai hutan, tidak hanya kehidupan flora dan fauna saja yang terpengaruh. Kehidupan manusia juga akan berubah. Pada dasarnya bumi itu seimbang. Namun saat terjadi satu perubahan di bumi yang tidak baik maka akan ada perubahan yang tidak baik pula pada makhluk hidup yang ada di bumi, termasuk kita.
Ada banyak perubahan buruk pada bumi jika hutan semakin rusak yang dapat memberikan pengaruh tidak baik pada kehidupan kita seperti perubahan iklim yang berbahaya: http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/hutan-dan-perubahan-iklim/.

PROTECTPARADISE:  SAATNYA MELINDUNGI HUTAN
Banyak orang yang menggantungkan urusan hutan kepada pemerintah dan tidak melakukan apa-apa walau tahu hutan sedang terancam. Biarlah pemerintah melaksanakan tugas dan kewajibanya mengurus masalah undang-undang dan penegakan hukum yang berlaku dalam kaitannya dengan hutan. Kita sebagai warga negara yang baik atau lebih tepatnya penghuni bumi pertiwi, juga harus melaksanakan tugas kita menjaga hutan dengan baik pula sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita.

Bagaimana caranya? 
Cara 1: Dukung kampanye Protect Paradise yang bisa kita lakukan sekarang juga. Bergabunglah bersama ratusan ribu orang lainnya sebagai langkah awal melindungi hutan Indonesia.

Cara 2: Hubungkan berbagai hal yang diri kita miliki dengan hutan, seperti basis keilmuan kita untuk melindungi hutan secara kreatif.
Misalnya saya yang menekuni dunia arsitektur. Apa yang bisa ‘arsitektur’ lakukan demi menjaga hutan? Kita mulai dari elemen kecil dari hutan yaitu pohon. Saat mendesain, saya tidak akan menebang pohon. Saya akan memanfaatkankan pohon, bahkan menambahkan pohon. Saya teringat kata-kata dari seorang arsitek terkenal Frank Llyod Wright yang kurang lebih seperti ini, “Jika desainmu kurang bagus tambahkan satu pohon, jika kurang bagus juga tambahkan satu pohon, jika masih kurang tambahkan lagi karena pohon membuat bangunan menjadi indah.” 
Bagaimana dengan keilmuan lain?
Semua keilmuan yang baik, dapat dimanfaatkan untuk melindungi hutan. Ada banyak hal kreatif yang bisa kita lakukan sesuai dengan keilmuan kita jika kita mau sejenak berpikir dan sedikit berimajinasi.
Seperti Kimia? Mungkin kita bisa meneliti dan menghasilkan temuan bahwa senyawa kimia tertentu dapat meningkatkan kualitas tanaman secara signifikan pada hutan dengan jenis tertentu.
Atau Tata Boga? Mungkin kita bisa membuat masakan sehat dari bahan baku yang dapat ditemukan di hutan yang sudah diuji kandungan nutrisi dan gizinya lalu dipasarkan dan dikembangkan hingga dibuat restoran dengan berbagai cabang seperti bisnis waralaba yang keuntungannya untuk hutan.
Pada akhirnya tidak hanya cukup satu keilmuan yang beraksi mempertahankan hutan, kombinasi berbagai keilmuan akan menciptakan dukungan efektif dan menakjubkan bagi hutan kita. Kita makhluk kreatif. Kita bisa menjadi pelindung hutan yang kreatif, bukan?

--oOo--

EPILOG
Loh jadi benar ini salah kita?
Ya, tidak berbuat apa-apa, membiarkan sesuatu yang tidak benar terus terjadi, sama saja dengan menonton mereka-satwa yang sedang tersiksa mati perlahan-lahan. Menyalahkan memang mudah, tapi memberikan solusi tepat dan melaksanakannya perlu kesungguhan jiwa yang besar.

Sehingga kita punya rumus baru:
Dengan tidak menjaga hutan, itu berarti kita tidak menjaga kehidupan termasuk satwa.
Dengan menjaga hutan, itu berarti kita menjaga kehidupan makhluk hidup di bumi.

Sebarkan berita darurat ini ke keluarga dan teman-teman kita, bahwa satwa-satwa kita membutuhkan hutan, hutan perlu diselamatkan, hanya kita yang dapat melakukannya, karena kita bisa hidup dengan nyaman sampai saat ini berkat hutan.

Salam saya ucapkan kepada semua pelindung hutan yang kreatif.

Sabtu, 23 Februari 2013

Download Artwork Dynasty Warrior 6&7

Wah. Begitu banyak pencarian tentang Dynasty Warrior ke blog ini. Kebanyakan tentang karakter. Saya tidak bisa menyumbang banyak-banyak, tapi saya akan membagi ini kepada Anda semua.



Silakan Download [.rar] Artwork Dynasty Warrior 6 dan Dynasty Warrior 7, KLIK:

Artwork Dynasty Warrior 6 (13,2 MB)

Artwork Dynasty Warrior 7 (39,2 MB)

Selasa, 03 Januari 2012

TOP 10: IL DIVO Songs

Berikut ini adalah daftar TOP 10 lagu-lagu Il Divo yang saya favoritkan. Sebagian besar memang merupakan single andalan dan laris di belahan dunia. Sebenarnya ada banyak sekali lagu yang saya sukai dari setiap album Il Divo. Jadi, walaupun TOP 10, saya akan memberikan dua list lagu tambahan dari tiap album yang jangan sampai anda lewatkan untuk didengar :D it means TOP 20 Il Divo Songs :D



Ini dia TOP 10 IL DIVO Songs!

--oOo--


Album: Il Divo (2004)
1• 
Regresa a Mi - Unbreak My Heart

2•
Ti amerò


Other/Recommended: a. Mama; b. Feelings

--oOo--


Album: Ancora (2005)
3• 
Heroe

4• 
Si Tú Me Amas

Other/Recommended: c. Isabel; d. I Believe in You

--oOo--


Album: Siempre (2006)
5• 
Nights In White Satin

6• 
La Vida Sin Amor

Other/Recommended: e. Come Primavera; f. Una Noche

--oOo--


Album: The Promise (2008)
7• 
The Power of Love - La Fuerza Mayor

8• 
Adagio

Other/Recommended: g. Amazing Grace; h. Angelina

--oOo--


Album: Wicked Game (2011)
9• 
Wicked Game - Melanchonia

10• 
Time to Say Goodbye - Con Te Partiro

Other/Recommended: i. Sempre Sempre; j. Senza Parole

--oOo--

Setujukah dengan list lagu di atas? Ataukah Anda punya daftar TOP 10 lagu IL Divo pilihan Anda sendiri? :D
Dan diantara ke 20 / 10 lagu tersebut favorit saya adalah La Vida Sin Amor! Super song!

Minggu, 11 Desember 2011

Sedikit Melek dengan Sisi Lain PEMIRA

Ada banyak hal yang tidak saya ketahui sebelumnya mengenai keadaan politik mahasiswa di UB.
Mencengangkan. Akun @UB_Unofficial di twitter membuat saya sedikit melek tentang itu.

Saya tidak bermaksud memfitnah maupun menjelek-jelekkan suatu pihak tertentu, namun jika ada suatu kebenaran tentunya janganlah ditutup-tutupi dan jika ada kesalahan tentunya agar bisa segera diluruskan dan diselesaikan. Inilah sedikit rangkuman yang berhasil saya buat:

Keterangan:
KAMMI: Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (di UB)
@UB_Unofficial: Salah satu akun misterius di twitter yang selalu buka-bukaan terhadap permasalahan di UB

--oOo--

Sejak 10-11 tahun yang lalu hingga sekarang telah terjadi suatu ketidaknyamanan saat orang2 "KAMMI" 'menguasai' EM UB. Yang membuat saya kaget, ketidaknyamanan tersebut disebabkan karena: adanya penyimpangan sila ke-1 Pancasila (semacam diskriminasi agama) dan politik (kepentingan pribadi) berkedok dakwah.
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh para alumni dan mahasiswa UB yang mengetahui dan mengalami sendiri hal-hal tersebut.

@UB_Unofficial mengatakan bahwa setiap kali rapat di BEM selalu diawali dengan mengaji. Oh mungkin yang dimaksud adalah doa pembuka majelis, itu juga saya lakukan dulu saat mengikuti rapat di SKI dan BDI SMA. Dan saya tidak bisa menyalahkan anggota EM tersebut karena setiap individu Indonesia dijamin oleh pasal 29. Namun jika ternyata yang dimaksud @UB_Unofficial bukanlah doa pembuka majelis saja, namun doa panjang lainnya dan disitu terdapat anggota EM yang non-muslim, rasanya ada sedikit ketidaktoleransian beragama dan itulah yang dirasakan oleh mereka yang beragama nonis.

Kalau tidak begitu, mungkin semua anggota dari EM UB adalah muslim. Eh? SEMUA? Kok bisa semua? Nah, dari cerita di timeline @UB_Unofficial, muncul pernyataan (entah itu fakta atau asumsi) bahwa orang2 KAMMI yang berada di EM akan mempermudah sesama golongan KAMMI, dan mempersulit anggota non-KAMMI (lebih parahnya adalah non-muslm) untuk bergabung di EM. Kalaupun ada anggota EM yang non-muslim mereka akan dikucilkan alias didiskriminasi, bukan? Dan tentunya, tidak seharusnya orang muslim melakukan itu.

Kekecewaan lain disebabkan bukan karena ngaji/Islamnya, tapi cara dan perilaku orang-orang KAMMI yang menguasai politik EM UB. Intinya adalah orang-orang KAMMI melakukan: "Politik berkedok Dakwah" bahkan ada yang frontal mengatakan bahwa "Itu bukan dakwah tapi hanya mengusung kepentingan golongannya sendiri," Pernyataan-pernyataan tersebut jelas bukan tanpa sebab. Dan sekali lagi saya tuliskan bahwa ini telah terjadi sejak 10-11 tahun silam.

Namun saya menjadi berpikir. Umm.. Dakwah+Politik? Jadi seperti apa itu? Jawabannya adalah "Elit Politik"
Mas AndiEmil Fitrah Ramadhani mengemukakannya dalam suatu tulisan cantik berikut ini:
http://www.facebook.com/topic.php?uid=47030869937&topic=10361
Oh ternyata dakwah yang dilakukan orang-orang KAMMI di UB termasuk dalam kategori ini? Mahasiswa biasa menganggap itu bukanlah dakwah murni, jauh dari esensi dakwah dan dekat sekali dengan esensi kekuasaan otoriter politik. Wuih?!


Saya sudah nulis panjang lebar dan bingung sendiri sebenarnya tulisan saya mau dibawa kemana.
Begini, ada banyak rumor mengenai KAMMI yang diangap bobrok dan janggal yang saya simpulkan dari paparan @UB_Unofficial:
1. Jumlah dana kampanya mereka tahun lalu adalah 29 juta rupiah yang berasal dari PKS. Aye! Ya benar, KAMMI disokong oleh salah satu partai Indonesia. (Kalau isu ini dibantah dengan pernyataan bahwa dana mereka adalah dana sukarela dari para tim sukses, berkisar 30rb hingga 100rb bahkan lebih dengan tujuan dakwah)
2. Open rekruitmen EM/BEM dilakukan 2 kali dalam setahun. Kenapa? Untuk pengkaderan dan pencitraan calon presiden EM. Sasarannya adalah maba, untuk memilih calon yang berasal dari orang-orang KAMMI saat PEMIRA. Berikut adalah Tweet dari @UB_Unofficial:
- Ada banyak kejanggalan kalau mau diruntut. Pertama mulai momen ospek univ, kedua OR 2 kali maba, + mentoring.
- Masih ingat selebaran EM ke maba ada fotonya siapa aja dan siapa yg jadi moderator pas ospek univ?
- Kalau lupa, selebaran yg dibagikan EM ada foto capres no 1, dan yg jadi moderator capres no 1 juga. #tanyakenapa?
- Mereka sudah setting agar capres no 1 ini familiar diliat maba terutama,ini jelas strategi licik berbalut agama. Sangat disayangkan.
- ospek univ itu tujuanya agar mereka (kammi) dapat kader banyak dan menyiapkan calon presiden berikutnya. sangat rapi, ank awam g bkl pham.
- FYI ada 25 kabinet di EM saat ini dan ada 13 Perempuan semuanya berjilbab. Plural kah? Dimana letak sila ke 1 ?? #miris
- Selesai ospek univ. Lanjut ke 2 x OR untu maba di EM dan BEM yang dipegang oleh KAMM. Ini kenapa ??
- Selesai ospek.ada 2 x OR maba untuk jadi staf magang di EM dan BEM yg dipegang KAMMI. Ini kenapa 2 x ???
- Selesai ospek. Knpa ada OR 2 x maba untuk jadi staf magang di EM atau BEM yg dipegang kammi?? Knpa?
- Dalam 1 tahun kepengurusan EM dan BEM yg kammi, melakukan 2 x OR untuk siapkan suara capres no 1 + ajang pengkaderan di KAMMI. #fakta.
- Alasan mendidik maba itu salah. Mencari kader dan mengenalkan capres no 1 yg benar. Admin ga tega liat maba di bohongin kayak gitu.
- Mereka mencitrakan diri yg baik dan santun di depan maba. Tujuanya apa? Agar maba simpatik dan dukung capres yg di usung dari kammi.
- Setelah mereka menang, maba yg dukung bakal ditinggalkan yg dimasukkan kabinet ya hanya orang islam dan mau jadi kader Kammi.
- Kalaupun ga mau jadi kader kammi, ya paling banter jadi sekdep dan wajib jadi simpatisan kammi itu pun harus Islam.
- Kalaupun sudah di kabinet, tapi ternyata ga mendukung program EM yg KAMMI. Anak tersebut akan dikucilkan.
- Oke, sekarang lanjut ke mentoring ya.
- Hampir semua LSO islam di UB kecuali FH itu dipegang anak KAMMI. Anak2 LSO yg bakal jadi mentor buat maba2.
- Fungsi lain mentoring itu untuk cari KTM buat pemira + pemilwa juga cari bibit2 unggul yg potensial untuk dijadikan kader kammi.
- Setelah dapat kader potensial dari hasil mentoring. Mereka disiapkan untuk jadi pres bem, dpm fak, dpm ub dan selanjutnya pres UB. #fakta
- Tahukah kalian, kalau kader2 kammi itu punya murobbi atau pembimbing sendiri. Murobbi nya itu orang2 PKS.
- Admin ini Anti Kammi yg sudah jadi kerajaan di UB 11 tahun. Mereka cuma cari kader, bela palestina dan mau jadikan UB kampus islam.
- Anak2 kammi mulai marah. Kalau marah tandanya apa ya? Bener semua apa yg admin katakan tadi dan ga ada satupun yg dibantah sama mereka.

Sebenarnya masih ada banyak, silakan kunjungi saja TL @UB_Unofficial
3. Calon ke3 presiden EM UB mundur karena tidak mendapat dukungan dari KAMMI.
4. Kampanye mereka dilakukan di awal maba masuk dengan cara mendata no.HP setiap maba dan mengumpulkan KTM mereka. Dan sekarang sedang terjadi.


Dan di official group FB orang-orang KAMMI yaitu "GARUDA MERAH, BRAWIJAYA BISA!" seakan menjawab pernyataan @UB_Unofficial, dan pernyataan yang ditulis mereka adalah sebagai berikut:
Kabarkan Kepada Mahasiswa khususnya Brawijaya !!
Black Campaign yg saat ini menodai PEMIRA bukanlah hal yg kotor tp MENJIJIKKAN..
Black Campaign bukan sekedar Pembohongan tp Penipuan..
Bukan Sekedar Penghinaan tp Pelecehan..
Bukan pula sekedar Penghasutan tp PEMBODOHAN..
Kalau msh ada Black Campaign di Brawijaya, maka sama saja PELAKUnya sdg mengabarkan sbuah BERITA bahwa:
Mahasiswa Brawijaya msh bisa dipengaruhi oleh tipu daya,
dihasut oleh fitnah belaka, di ajak bersuka ria mengumbar keburukan saudara, dkelabui kata2 kotor yg tdk ada faktanya, di PENGARUHI lalu di BODOHI..
Apakah KAU Mahasiswa Brawijaya rela diAnggpap demikian? TIDAK !!!
Lawan Black Campaign dg logika berpikir yg CERDAS !
Start with Ourselfs, Now !!


Pernyataan dan reaksi macam apa itu? Menurut saya tidak cukup santun. Black campaign? Pihak mana yang melakukan black campaign dan siapa korban sebenarnya O_Oa? Saya jadi bingung. Jadi, apakah benar orang-orang KAMMI UB dengan slogan barunya GARUDA MERAH ini tidak tahu masalah krusial dan fakta di lapangan selama lebih dari 1 dekade ini? Itu sedikit menandakan bahwa mereka kurang peka karena hanya melihat golongannya saja. Entahlah.. Tentunya mahasiswa UB ingin pemimpin yang netral dan berpikiran universal. 11 tahun sudah orang-orang KAMMI berkuasa di UB, namun para mahasiswa belum merasakan perubahan yang lebih baik. Statis. Benarkah itu?

Saya pribadi hanya berharap yang terbaik bagi mahasiswa UB. Jikalau GARUDA MERAH terpilih kembali semoga permasalahan ini bisa diselesaikan. Semoga di kepemimpinan yang baru (baik itu dari golongan KAMMI maupun non-KAMMI) tidak ada lagi yang merasa terdiskriminasi, dan keadilan akan selalu dijunjung tinggi. Semoga yang masih merem segera melek, karena dunia ini benar-benar kompleks dan perlu diperhitungkan dan diperhatikan dari segala macam perspektif. Monggo yang ingin berdakwah ya berdakwah selayaknya Rasulullah dan yang ingin berpolitik, berpolitiklah dengan jujur, adil, amanah. Amanah yang diemban tidak main-main, yaitu sejumlah mahasiswa UB dari berbagai suku, agama, dan ras. Tidak mudah memang, namun ini proses belajar yang panjang untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik.


--oOo--


PEMIRA kurang beberapa hari lagi. Jangan lupa 13 Desember 2011, tidak boleh golput.

Salam.